Masih Minim Apresiasi, Mona Salam Sidabutar Ingin Populerkan Lagu dan Alat Musik Etnik Pakpak

ia dan sang suami Ero Sinulinga berencana untuk membuka galeri alat musik tradisional yang ada di Kabupaten Dairi

Masih Minim Apresiasi, Mona Salam Sidabutar Ingin Populerkan Lagu dan Alat Musik Etnik Pakpak
TRIBUN MEDAN/HO
Pekerja Seni Kabupaten Dairi, Mona Salam Sidabutar. 

Laporan Wartawan Tribun Medan/ Mustaqim Indra Jaya

TRIBUN-MEDAN.com, SIDIKALANG - Masih minimnya apresiasi masyarakat, khususnya yang berada di Kabupaten Dairi terhadap kesenian lokal membuat seorang pekerja seni bernama Mona Salam Sidabutar berniat lebih mempopulerkan musik dan lagu etnik khas budaya Pakpak kepada generasi muda.

Bahkan, untuk merealisasikan impiannya tersebut, ia dan sang suami Ero Sinulinga berencana untuk membuka galeri alat musik tradisional yang ada di Kabupaten Dairi, khususnya alat musik etnik Pakpak.

Apalagi berkesenian bukan hal baru bagi Mona. Sejak duduk dibangku SMP, ia telah beberapa kali memenangi festival menyanyi tingkat Kabupaten Dairi hingga saat mengenyam pendidikan sarjana, ia menjadi salah satu mahasiswa yang ambil bagian dalam ajang Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) dengan membawakan lagu etnik Sumut.

"alam konteks adat pun kesenian Pakpak masih jarang dipakai. Jadi saya dan suami berencana supaya musik etnik Pakpak ini lebih populer di masyarakat, khususnya generasi muda dengan cara membuka galeri alat musik, sekaligus tempat belajar juga. Apalagi suami juga bisa memainkan seluruh instrument alat musik," kata Mona, Rabu (9/1/2019).

Mona menilai generasi muda saat ini cenderung lebih gemar menghabiskan waktu dengan bermain game ataupun di aktif di media sosial. Ditambah lagi wadah untuk berkesenian masih sangat minim.

Padahal menurutnya generasi muda merupakan aset bangsa, sehingga bila itu terlaksana maka para calon pemimpin bangsa itu bisa turut menyebarluaskan lagu dan musik etnik Pakpak.

"Saya miris melihat anak muda yang tidak punya waktu untuk melakukan kegiatan seni. Anak muda sekarang lebih suka bermain game dan warnet. Jadi dari sini saya mulai berpikir agar anak-anak muda ini nantinya mempunyai wadah untuk berkesenian," ujarnya.

Tak hanya itu, cara lain yang dilakukan alumni Etnomusikologi, Universitas Sumatera Utara (USU) itu agar musik etnik Pakpak lebih dikenal banyak orang, yaitu terus produktif menciptakan lagu.

Bahkan beberapa ciptaan lagunya itu, ia buat dalam bentuk video dan meng-upload-nya ke channel youtube miliknya. Selain itu, wanita kelahiran 14 Februari 1993 ini pun bergabung dengan Persatuan Artis, Penyanyi dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Kabupaten Dairi.

"Dulu saya sempat rekaman dan punya album solo batak dalam bentuk VCD. Setelah menikah stop rekaman dan kini memilik lebih aktif di channel youtube pribadi," ungkapnya.

Ia pun mempunyai prinsip bahwa untuk berkesenian tidak harus dilandasi uang, namun dengan berkarya di jalur seni bisa memperpanjang usia.

"Kesenian tidak harus selalu tentang uang. Tapi saya yakin bila terus berkarya, maka karya kita itu yang akan semakin memperpanjang umur kita," pungkasnya.

(ind/tribun-medan.com)

Penulis: Mustaqim Indra Jaya
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved