Komunitas Internet Baik Sumut Ajak Masyarakat Cerdas Literasi Digital

Salah kaprah terjadi di masyarakat karena kurangnya edukasi memanfaatkannya.

Komunitas Internet Baik  Sumut Ajak Masyarakat Cerdas Literasi Digital
TRIBUN MEDAN/NANDA RIZKA NASUTION
Potret Ketua Umum Komunitas Internet Baik Sumatera Utara (IBSU) Fadilla Rahmi saat menyosialisasikan internet baik kepada masyarakat beberapa waktu lalu. 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Nanda Rizka S Nasution

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Gelombang internet yang dahsyat yang tidak dibarengi dengan pengetahuan cukup, membuat masyarakat kelimpungan dan gagap akan teknologi terutama dalam bermedia sosial.

Salah kaprah terjadi di masyarakat karena kurangnya edukasi memanfaatkannya.

Hilangnya sekat pembatas, turut menyamarkan fungsi dan peran pranata sosial dalam bermasyarakat terutama hubungan anak dan orangtua.

Tidak bisa dibiarkan, satu provider ternama di Indonesia mengadakan Seminar Internet Baik di delapan kota pada 2016 lalu. Satu dari kota itu adalah Kota Medan.

Dari sana, terbentuklah Komunitas Internet Baik secara nasional yang mewajibkan para anggotanya memberikan edukasi penggunaan internet di kalangan anak muda, orangtua dan para guru.

"Dari seminar itu kami menjadi Duta Internet Baik yang bisa menjadi influencer ke masyarakat. Sharing yang kami lakukan tidak harus dengan suasana formal. Saling bertukar informasi bisa dengan santai dan sambil mengobrol. Fokus edukasi ada pada Digital Parenting, Digital Creatif dan Digital Literasi," ungkap Ketua Umun Komunitas Internet Baik Sumatera Utara (IBSU) Fadilla Rahmi kepada Tribun, Jumat sore (11/1/2019).

Fadilla sendiri tidak menyangka mendapatkan apresiasi dari masyarakat ketika mereka mulai melakukan berbagai sosialisasi. Panggilan edukasi terus datang. Terhitung dari tahun 2017 hingga 2018, sudah 50 komunitas atau organisasi yang diedukasi dengan kurang lebih menjangkau 3000 orang.

"Kami edukasi pada orangtua, anak-anak, remaja serta guru. Untuk orangtua, ada tekanan dalam mendampingi anak di era digital. Bukan hanya melek secara teknik, tetapi harus ada security awarness. Jangan taunya memberikan gadget tetapi tidak melakukan pendampingan," ungkap Guru Sosiologi di SMA Negeri 1 Galang ini.

Ia menambahkan, orangtua harus mengerti apa yang dilakukan anak menjadi addict game. Selama proses sosialisasi, Fadilla mengungkapkan telah menemukan banyak kasus yang menyebabkan anak-anak kehilangan masa depan, waktu belajar, dan menjadi zombi gadget.

Halaman
123
Penulis: Nanda Rizka Nasution
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved