Agustina Manik Doyan Lari Sejak Berumur Belia, Miliki Darah Pelari dari Sang Ayah

Pas ada perlombaan antar SD lalu guru olahraga suruh saya ikut di sprinter 100 meter, tapi kalau untuk SD dulunya cuma 60 meter

Agustina Manik Doyan Lari Sejak Berumur Belia, Miliki Darah Pelari dari Sang Ayah
TRIBUN MEDAN/HO
Agustina Mardika Manik (berhijab) atlet Putri Cabor lari asal sumatera Utara saat meraih medali emas pada Kejuaraan nasional. 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Chandra Simarmata

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Berawal dari kegemarannya melihat orang-orang yang sedang berolahraga lari, membuat pelari putri asal Sumatera Utara Agustina Manik yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar lambat-laun mulai tertarik pada olahraga tersebut.

Agustina menuturkan bahwa dirinya mulai menekuni olahraga lari sejak masih duduk di kelas 3 SD. Karena dinilai dia memiliki bakat, guru olahraganya pun kemudian mencobanya untuk mengikuti perlombaan lari.

"Mulai ikuti jadi atlet itu sejak kelas tiga SD. Awalnya gemar lihat orang lari-lari terus pengen juga sih lari-lari, jadi ikut-ikut lari. Pas ada perlombaan antar SD lalu guru olahraga suruh saya ikut di sprinter 100 meter, tapi kalau untuk SD dulunya cuma 60 meter," ujarnya, Minggu (13/1/2019).

Agustina mengatakan, SD Urungjawa Hutapadang, Bandarpasir Mandoge, Asahan tempatnya bersekolah, rupanya merupakan sekolah yang rutin untuk mengikuti pertandingan olahraga tingkat sekolah dasar.

Setelah sering ikut perlomban antar sekolah, dirinya pun kemudian diikutkan pada perlombaan di tingkat kabupaten dan berhasil meraih juara. Kompetisi nasional pertamanya, kata Agustina adalah saat dirinya duduk di kelas 6 SD. Saat itu dia mengikuti Kejurnas atlet usia dini di Jakarta tahun 2006. Namun saat itu Agustina belum bisa meraih medali.

Warga Geruduk Gereja di Medan, Polisi: Tak Ada Larangan Ibadah tapi Bangunan Gereja Belum Berizin

Kondisi Terbaru Gunung Anak Krakatau, Air Laut di Sekelilingnya Tampak Berwarna Oranye

Pemko Medan Berhentikan 11.875 Pegawai Harian Lepas demi Hemat Pengeluaran Rp 32 Miliar Per Bulan

Ziarahi Makam Pendiri Al-Washliyah, Zulham: Tuan H Arsyad Thalib Lubis Layak jadi Pahlawan Nasional

"Dulu namanya pembinaan atlet usia dini, yang sekarang digantikan O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional). Setelah juara kabupaten terus dikirim ke Medan untuk seleksi nasional kompetisi di Jakarta tahun 2006 tapi belum juara," terangnya.

Saat masih duduk di SD, Agustina menuturkan dirinya sering berlatih di lapangan bola sebuah pabrik di Bandarpasir Mandoge.

Gabungan Relawan Jokowi Cek Kesehatan dan Bagikan Kacamata Gratis untuk Pengemudi Online

Harga Tiket Aceh-Jakarta Mahal, Gubernur Kirim Surat ke Presiden

Apalagi Latar belakang keluarga Agustina yang yang juga merupakan para atlet, membuat dirinya juga lambat laut semakin tertarik untuk benar-benar menjadi atlet profesional dan berprestasi.

"Ayah saya dulu pelari sprint meski tidak sampai Nasional. Anak-anak perempuan mama juga atlet, jadi mungkin keturunan. Tapi mereka sampai SMA saja, sampai sekarang yang masih jadi atlet cuma saya saja," ujar anak keenam dari 8 bersaudara ini.

Lumpur Setinggi Betis Kembali Terjang Jembatan Sidua-dua Pedagang dan Supir Truk Merugi

Tak Kunjung Disodorkan Kontrak, Gusti Sandria Pilih Hengkang dari PSMS,Rahasiakan Klub yang Meminang

Halaman
12
Penulis: Chandra Simarmata
Editor: Joseph W Ginting
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved