Indonesia Vegetarian Society (IVS) Mengedukasi Lewat Seminar Kesehatan dan Pendidikan

sekolah tidak boleh lagi mengajarkan bahwa susu adalah lima sempurna. Seolah-olah kalau kita tidak minum susu maka gizi kita tidak sempurna.

Indonesia Vegetarian Society (IVS) Mengedukasi Lewat Seminar Kesehatan dan Pendidikan
TRIBUN MEDAN/SEPTRIANA AYU SIMANJORANG
Ratusan orang mengikuti Seminar Kesehatan dan Pendidikan yang digelar oleh Indonesia Vegetarian Society (IVS) dan Vegan Society of Indonesia (VSI). Ada dua pembicara dalam seminar tersebut Dr Susianto, MKM dan Dr Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si atau yang akrab dikenal dengan Kak Seto. Acara ini diselenggarakan di Sky Convention Hall Jalan Boulevard Utara nomor 8, Komplek Cemara Asri, Deli Serdang, Sabtu (12/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Septrina Ayu Simanjorang

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Ratusan orang mengikuti Seminar Kesehatan dan Pendidikan yang digelar oleh Indonesia Vegetarian Society (IVS) dan Vegan Society of Indonesia (VSI).

Acara ini diselenggarakan di Sky Convention Hall Jalan Boulevard Utara nomor 8, Komplek Cemara Asri, Deli Serdang, Sabtu (12/1/2019).

Ada dua topik yang dibahas dalam seminar tersebut yakni Gizi Nabati dan Isi Piringku yang disampaikan oleh Dr Susianto, MKM dan Mendidik dengan Cinta oleh Dr Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si atau yang akrab dikenal dengan Kak Seto.

"Ada seorang ibu yang menyampaikan kepada saya, bagaimana saya bisa mengajarkan anak saya tentang pedoman gizi padahal di sekolah masih memberikan PR (Pekerjaan Rumah) membawa contoh makanan empat sehat lima sempurna. Lalu saya bilang anak ibu sekolah dimana," tutur Dr Susianto membuka seminar tersebut.

Dr Susianto, MKM pakar gizi nasional dan internasional dan President of World Vegan Organization sharing tentang gizi nabati dan isi piringku.
Dr Susianto, MKM pakar gizi nasional dan internasional dan President of World Vegan Organization sharing tentang gizi nabati dan isi piringku. (TRIBUN MEDAN/HO)

Lalu lanjutnya saat ia di Jawa Tengah, ia bertanya pada seorang guru tentang kurikulum yang dipakainya.

Guru tersebut menjawab mereka sudah menggunakan kurikulum tahun 2013 dimana sudah  mengajarkan pedoman gizi seimbang dan tidak mengajarkan lagi empat sehat lima sempurna.

"Artinya sekolah tidak boleh lagi mengajarkan bahwa susu adalah lima sempurna. Seolah-olah kalau kita tidak minum susu maka gizi kita tidak sempurna, dan itu tidak benar. Makanya sejak tahun 93 mulai diajarkan pedoman gizi seimbang di mana susu tidak masuk lagi," tuturnya.

Lalu tahun 2014 lanjut Dr Susianto mulai muncul tumpeng gizi seimbang. Di tumpeng gizi seimbang ini tidak ada keharusan mengkonsumsi dua sampai tiga porsi protein hewani di samping dua sampai tiga porsi protein nabati.

"Jadi tumpeng gizi seimbang itu bentuknya bulat bukan seperti piramida, lalu hanya disebutkan konsumsi dua sampai tiga porsi protein titik. Tidak ada keharusan konsumsi protein hewani tapi bisa saling mensubstitusi antara hewani dan nabati," ujarnya.

Halaman
1234
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved