'Itu Semua Fitnah': Hakim Merry Purba Menangis Dengar Dakwaan Jaksa

Merry menangis seusai mendengar pembacaan surat dakwaan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

'Itu Semua Fitnah': Hakim Merry Purba Menangis Dengar Dakwaan Jaksa
KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN
Hakim Merry Purba di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (14/1/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, JAKARTA - Hakim adhoc pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Medan, Merry Purba menangis saat duduk di kursi terdakwa di Ruang Sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (14/1/2019).

Merry menangis seusai mendengar pembacaan surat dakwaan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Awalnya, Ketua Majelis Hakim Syaifuddin Zuhri menanyakan apakah Merry mengerti dengan isi dakwaan jaksa KPK.

Namun, saat menjawab pertanyaan hakim, Merry tak kuat menahan air matanya.

Menurut hakim, keberatan Merry tersebut sudah masuk dalam materi pokok perkara. Bantahan tersebut perlu pembuktian melalui sidang pemeriksaan saksi-saksi.

Namun, saat kembali ditanya oleh majelis hakim, pengacara Merry menyatakan akan mengajukan nota keberatan atau eksepsi atas surat dakwaan. Pengacara meminta waktu satu pekan untuk mempersiapkan materi eksepsi.

Merry Purba didakwa menerima suap 150.000 dollar Singapura. Uang tersebut diduga diberikan oleh pengusaha Tamin Sukardi.

Hakim Adhoc Tipikor Pengadilan Negeri Medan Merry Purba menggunakan rompi oranye usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Rabu (29/8/2018). KPK resmi menahan empat tersangka yakni Hakim Adhoc Tipikor PN Medan Merry Purba, Panitera Pengganti Helpandi, serta Tamin Sukardi dan Hadi Setiawan dari pihak swasta atas kasus dugaan menerima hadiah atau janji terkait putusan perkara di PN Medan.
Hakim Adhoc Tipikor Pengadilan Negeri Medan Merry Purba menggunakan rompi oranye usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Rabu (29/8/2018). KPK resmi menahan empat tersangka yakni Hakim Adhoc Tipikor PN Medan Merry Purba, Panitera Pengganti Helpandi, serta Tamin Sukardi dan Hadi Setiawan dari pihak swasta atas kasus dugaan menerima hadiah atau janji terkait putusan perkara di PN Medan. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Menurut jaksa, uang tersebut diterima Merry melalui panitera pengganti pada Pengadilan Tipikor Medan, Helpandi. Menurut jaksa, Helpandi menerima 280.000 dollar Singapura.

Jaksa menyebutkan, pemberian uang tersebut diduga untuk memengaruhi putusan hakim dalam perkara korupsi yang sedang ditangani Merry dan anggota majelis hakim lainnya.

Perkara tersebut yakni dugaan korupsi terkait pengalihan tanah negara atau milik PTPN II Tanjung Morawa di Pasar IV Desa Helvetia, di Deli Serdang, Sumatera Utara.

Halaman
12
Editor: Liston Damanik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved