Bertarung hingga Mengharumkan Negara, Kisah Atlet Berprestasi yang Dicueki Pemkab Tobasa

Adi Rominto Manurung, satu dari sekian atlet berprestasi di Tobasa menuturkan, selama proses mendapatkan juara tidak ada perhatian pemerintah.

Bertarung hingga Mengharumkan Negara, Kisah Atlet Berprestasi yang Dicueki Pemkab Tobasa
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Adi Rominto Manurung, Atlet Wushu asal Tobasa saat meraih medali emas pada Piala Presiden, beberapa waktu lalu. 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Arjuna Bakkara

TRIBUN-MEDAN.COM, TOBASA - Wajah Ridwan Nababan (64) berkerut menceritakan keluh kesah yang ia hadapi mengurus olahraga Wushu Kabupaten Toba Samosir.

Pria 64 tahun ini bertahun-tahun berjibaku mengurus olahraga keras tersebut, dan melahirkan atlit-atlit tangguh, namun tidak pernah memdapat perhatian dari Pemerintah khususnya Pemeritah Kabupaten Tobasa.

"Tidak pernah olahraga kita diperhatikan, bahkan empat kali pun ke kantor Bupati tak pernah diterima," ujar mantan atlet kelahiran tahun 1955 ini, di Balige, Minggu (17/1/2019).

Padahal, cabang olahraga Wushu Tobasa sejak lama telah melahirkan atlit tarung berprestasi hingga ke kancah internasional. Bahkan, baru-baru ini tiga tahun berturut-turut juara dua umum se-Kejuaraan Daerah Wushu Sumut.

Pada tahun 2017, mereka mengikuti kejuaraan nasional serta meraih prestasi dari Yogyakarta. Mereka tidak mendapat biaya dari KONI, meski dari dua atlit yang diberagkatkan berhasil meraih medali emas dan medali perunggu untuk mengharumkan Provinsi Sunut dan Kabupaten Tobasa di kancah nasional.

"Tiga tahun berturut-turut juara dua umum sekejurda wushu Sumut. Lalu di luar Sumut juga juara. Kiranya Pemda bisa memperhatikan Pendanaan dan harusnya lebih memperhatikan cabang olah raga ini. Padahal atlit kita sudah mengukir prestasi, tapi tidak ada dapag apa-apa," tambahnya.

Sebaiknya, kata Ridwan Pemkab Tobasa serius. Apalagi, atlit-atlit Wushu di sana masih rata-rata anak sekolah yang perekonomian orangtuanya serba pas-pasan. Selama ini mereka sudah semangat membawa nama daeerah.

Mirisnya, selama ini Ridwan hanya bisa menyisihkan uang sakunya untuk membiayai atlit. Baik dari segi penginapan dan baiaya lainnya.

"Pada keberangkatan mereka waktu Kejurda, kita malah mendahului. Sebenarnya, tidak masalah. Tapi, sayangnya yang di kejurda tidak sesuai yang dibayarkan KONI ke kita," ujarnya.

Halaman
123
Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved