Biaya Ganti Rugi dari Pemkab Dairi Tak Kunjung Cair, Petani Ini Tak Bisa Lagi Bersawah

Seorang petani padi bernama Nazaruddin Cibro kini tak bisa lagi bercocok tanam usai sawahnya mengalami kerusakan

Biaya Ganti Rugi dari Pemkab Dairi Tak Kunjung Cair, Petani Ini Tak Bisa Lagi Bersawah
TRIBUN MEDAN/MUSTAQIM INDRA JAYA
Nazaruddin Cibro menunjukkan sawahnya yang kini rusak dan sulit untuk ditanami padi lagi dampak pembangunan Saluran Irigasi di Desa Tuntung Batu, Kecamatan Silima Pungga-pungga, Dairi pada Senin (21/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Medan/ Mustaqim Indra Jaya

TRIBUN-MEDAN.com, SIDIKALANG - Seorang petani padi bernama Nazaruddin Cibro, warga Desa Tuntung Batu, Kecamatan Silima Pungga-pungga, Kabupaten Dairi, kini tak bisa lagi bercocok tanam, setelah enam rante sawah yang ia sewa mengalami kerusakan pascapembangunan proyek rehabilitasi saluran irigasi di wilayah tersebut.

Nazaruddin menjelaskan pengerjaan proyek saluran irigasi dari Dinas Pertanian Pemkab Dairi di tempatnya berlangsung pada bulan November hingga Desember 2018 lalu. 

Adapun dananya bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) senilai Rp 157 juta.

Dan sebelum pembangunan dilakukan, CV Karya Permata selaku kontraktor proyek tersebut ada menjanjikan biaya ganti rugi sebesar Rp 2 juta, akibat saluran irigasi yang akan dibangun akan berdampak atas lahan yang telah ditanami padi oleh Nazaruddin.

"Jadi sebelum proyek rehabilitasi saluran irigasi ini dikerjakan, datang orang mengaku pemborong namanya Gogok Sihombing. Pas pulak aku baru nanam seminggu, jadi dia bilang nanti dibayar ganti rugi karena sawah ku bakal rusak akibat proyek saluran irigasi. Ya, karena untuk kepentingan bersama, jadi ku sepakati lah uang ganti ruginya Rp 2 juta saja," kata Nazaruddin, Senin (21/1/2019).

Namun, setelah pengerjaan proyek irigasi sepanjang 150 meter tersebut berakhir empat hari jelang tahun 2019, ternyata janji pemberian uang ganti rugi tak kunjung terealisasi hingga kini. Padahal sawah yang Nazaruddin sewa untuk menyambung hidup, tak bisa ditanami lagi.

"Jadi tiga hari atau empat hari sebelum tahun baru, udah berhenti pengerjaan. Padahal ada sekitar 20 meter lagi bagian lantainya yang belum di semen. Karena ku tengok nggak ada lagi pengerjaan, jadi pengin ku tagih biaya ganti rugi yang dijanjikan. Pas ditelpon, udah nggak aktif lagi nomor si Gogok Sihombing itu," ungkap.

Tentunya, kondisi tersebut sangat merugikan bagi Nazaruddin yang harus membayar biaya sewa kepada pemilik enam rante sawah yang ia pinjam pakai untuk menanam padi.

Tak sampai disitu Nazaruddin pun bercerita, bahwa ada beberapa warga Desa Tuntung Batu yang turut dipekerjakan dalam proyek pembangunan saluran irigasi tersebut belum sepenuhnya memeroleh upah yang telah disepakati.

"Tukang pun ditokohi, ada upah yang belum dibayar. Si Gogok itu juga nggak pernah datang-datang lagi. Macam dibodoh-bodohi orang kampung sini. Kami minta pemborong bertanggung jawab. Kalau nggak kami mohon dinas pertanian beri perhatian atas kondisi ini," ucapnya.

(ind/tribun-medan.com)

Penulis: Mustaqim Indra Jaya
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved