Kue Keranjang, Camilan Khas Saat Tahun Baru Perayaan Imlek

Beberapa makanan khas dan camilan manis akan disajikan di perayaan Tahun Baru Imlek. Salah satunya adalah Kue Keranjang

Kue Keranjang, Camilan Khas Saat Tahun Baru Perayaan Imlek
TRIBUN MEDAN
Pekerja menyelesaikan pembuatan kue keranjang di industri rumah tangga di Jalan Bambu I, Medan, Sumatera Utara, Selasa (29/1/2019). Kue keranjang atau disebut juga kue bakul merupakan penganan khas berbahan dasar ketan dan gula pasir yang selalu tersaji setiap perayaan Imlek.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

TRIBUN-MEDAN.com - Beberapa makanan khas dan camilan manis akan disajikan di perayaan Tahun Baru Imlek. Salah satunya adalah Kue Keranjang atau yang sering disebut dengan Kue Bakul.

Oleh karena itu, saat menjelang Imlek akan ada beberapa usaha musiman yang khusus memproduksi panganan yang yang bertekstur kenyal dan lengket serta terbuat dari tepung ketan dan gula tersebut.

Salah satunya adalah usaha rumahan pembuatan Kue Keranjang yang berada di Jalan Bambu I Medan yang selalu memproduksi setiap menjelang Imlek dan sudah ada sejak 35 tahun lalu.

“Ini adalah usaha turunan dari ayah saya, sudah ada 35 tahunan lah usianya dan saya merupakan generasi kedua yang memang rutin memproduksi Kue Keranjang saat menjelang Imlek,” ujar sang pemilik, Cin Sin saat ditemui Tribun, Selasa (29/1/2019).

Ia menjelaskan, walaupun terbilang mudah, ternyata banyak pantangan yang harus dilakukan saat pembuatan Kue Keranjang berlangsung, mulai dari tidak boleh mengeluarkan perkataan kasar hingga kondisi dapur yang harus tetap baik dan tidak boleh sembarangan.

“Karena memang membuat Kue Keranjang tidak sembarangan. Ada beberapa pantangan yang kalau bisa jangan sampai dilanggar seperti tidak boleh bicara kasar, hati harus bersih saat membuat, dapur tidak boleh sembarangan dimasuki, orang hamil tidak boleh masuk dapur dan lainnya serta yang sedang datang bulan juga tidak boleh,” jelasnya.

Ia menerangkan, seperti mitos yang beredar, pasalnya ketika pantangan tersebut dilarang maka akan mempengaruhi kualitas dari Kue Keranjangnya seperti warna, rasa dan bentuknya yang tidak akan sempurna.

“Jadi memang sudah tradisi kalau saat proses pembuatan jangan sampai melanggar pantangan-pantangan tersebut agar hasilnya bisa bagus,” terangnya.

Ia menuturkan, hanya memproduksi Kue Keranjang satu tahun sekali karena memang pesanan untuk Kue Keranjang hanya menjelang atau saat Imlek saja. Sementara di hari-hari biasa tidak ada pemesanan.

“Biasanya pembelian Kue Keranjang akan ramai H-3 bahkan H-1 jelang Imlek karena masyarakat lebih menyukai Kue Keranjang yang masih fresh atau dalam kondisi baru matang yang masih lembek dibandingkan yang sudah keras,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, Kue Keranjang di tempatnya dijual per kotak ada yang berisi dua buah, empat buah hingga delapan buah yang dijual dengan harga mulai Rp 40ribuan tergantung dari ukuran dan banyak Kue Keranjangnya.

“Untuk tingkat permintaan, tiap tahunnya sih masih sama saja, apalagi saat ini karena masih seminggu maka belum kelihatan peningkatannya,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, biasanya permintaan akan cukup banyak dilakukan oleh supermarket dan plaza. Untuk pasar tradisional dan toko walaupun ada tetapi tidak sebanyak permintaan di supermarket dan plaza.

“Selain dihidang saat Imlek, Kue Keranjang juga banyak digunakan untuk sembahyang jadi bukan hanya disajikan sebagai menu saat Imlek saja,” sebutnya.(pra/tribun-medan.com )

Penulis: Ayu Prasandi
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved