Imlek, Ketua MBI: Semuanya Harus Sudah Bersih setelah Pukul 00.00 WIB

Semuanya harus bersih dalam rangka menyambut Hari Raya Imlek. Setelah jam 00.00 WIB.

Imlek, Ketua MBI: Semuanya Harus Sudah Bersih setelah Pukul 00.00 WIB
TRIBUN MEDAN/HO
Kegiatan Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Sumatera Utara dalam memberdayakan masyarakat, beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Dalam setiap kepercayaan, sudah pasti ada satu hal wajib yang menjadi budaya dalam menyambut tahun baru. Tidak terkecuali bagi mereka yang merayakan Imlek.

Ketua Umum Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Sumatera Utara (Sumut) Eddy Sujono mengatakan, yang paling rutin satu hari sebelum Hari Imlek biasanya, seluruh rumah tangga melakukan bersih-bersih di rumahnya.

"Semuanya harus bersih dalam rangka menyambut Hari Raya Imlek. Setelah jam 00.00, kami menyebutnya tanggal 30, tidak boleh menyapu dan mengepel, tidak ada bersih-bersih di hari raya ini," katanya kepada Tribun.

Bersih-bersih tersebut, tambahnya, pertama menunjukkan menyambut hari Raya Imlek kita harus membersihkan diri dan lingkungan. Secara filosofis artinya memberisihkan beban pikiran, hal yang tidak baik dan bagi lingkungan memberikan nuansa yang bersih pula.

"Artinya menyambut tahun yang baru, kita harus lepas dari beban-beban pikiran yang tidak baik dan tidak bagus. Begitu tanggal 1 kita bersih semua," tuturnya.

Tidak hanya membersihkan perkakas, menyambut tahun baru, mereka juga harus membersihkan diri. Seperti mandi bunga. Malamnya, mereka akan berkumpul bersama seluruh keluarga untuk makan bersama. Eddy mengatakan, itu adalah momen yang sangat indah, di mana rasa kebersamaan satu keluarga dari berbagai generasi kakek, nenek, cucu hingga menant berkumpul bersama.

"Bagi orang yang tidak vegertarian, ya, makan daging-daging, ditambah dengan sayur, kuah-kuahan. Termasuk makan mi yang melambangkan usia panjang dan harapannya dapat peluang yang baik," tambahnya.

Setelah itu, pada malam hari, mereka berdoa kepada Tuhan untuk mengenang para leluhur yang sudah lama meninggal agar ditempatkan di tempat yang baik. Artinya sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa mereka.

"Saya perlu menambahkan, Hari Raya Imlek tidak dimonopoli oleh agama tertentu. Bisa juga non Konghucu. Mereka beribadah di tempat agamanya masing-masing. Apakah mereka ke Gereja, ke Vihara, sesuai dengan agamanya masing-masing," katanya.

Sebenarnya, moment pergantian tanggal Imlek, pada zaman dahulu berkaitan dengan bergantian musim. Yaitu dari musim dingin ke musim semi. Masyarakat yang pada saat itu umumnya hidup sebagai petani, ini adalah momen menyambut musim semi karena mereka bisa berladang. Maka dari itu, orientarasi Imlek tidak terkait agama tetapi menyambut musim semi dan perubahan tanggal menurut Imlek.

Halaman
12
Penulis: Nanda Rizka Nasution
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved