Tim Cakap-cakap Gelar Ngobrol Santai soal Siantar, Akademisi dan Praktisi Kritik Kinerja Pemko

Disikusi yang diinisiasi oleh Tim Cakap-cakap Siantar melihat dari beberapa aspek yakni pendidikan, kesehatan, sumber daya manusia (SDM).

Tim Cakap-cakap Gelar Ngobrol Santai soal Siantar, Akademisi dan Praktisi Kritik Kinerja Pemko
TRIBUN MEDAN/TOMMY SIMATUPANG
Para pembicara dalam acara 'Ngobrol Santai Soal Siantar' di Grand Palm Hotel, Kota Siantar, Minggu (10/2/2019).

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Kota Pematangsiantar mendapatakan peniliaian buruk dari para pemerhati. Hal ini diungkapkan dalam 'Ngobrol Santai Soal Siantar' yang diisi oleh para akademisi, praktisi hukum, budayawan, pengusaha, dan anggota DPRD Kota Siantar.

Disikusi yang diinisiasi oleh Tim Cakap-cakap Siantar melihat dari beberapa aspek yakni pendidikan, kesehatan, sumber daya manusia (SDM), perdagangan, dan infrastruktur. Kegiatan ini dilaksankan di Grand Palm Hotel, Jalan MH Sitorus, Kecamatan Siantar Barat.

"Bicara Siantar itu harus dimulai dengan niat, kepedulian, dan paham," ujar Robert Siregar perwakilan akademisi membuka diskusi, Minggu (10/2/2019).

Menurut Robert, Siantar merupakan lokasi yang asyik, mulai dari letak geografisnya hingga kondisi cuacanya. Siantar memiliki geografis tidak terlalu tinggi dan tidak juga terlalu rendah. Sehingga, cuaca juga tidak terlalu panas.

Anggota DPRD Siantar Kennedy Parapat menyebutkan Kota Siantar membutuhkan pemimpin yang memiliki potensi yang cukup untuk memikirkan pembangunan. Ia juga mengaku muak dengan visi-misi pemerintah yang tidak menjalankan program dengan benar.

"Setiap tahunnya, pemerintah bersih, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pemberdayaan UMKM, selalu dijabarkan pemerintah. Tapi, belum ada perubahan di Siantar,"ujar Kennedy.

Senada dengan itu, dari aspek seni dan kebudayaan, Sultan Saragih berpendapat hingga kini pegiat-pegiat kreatif belum terhubung dengan Pemko Siantar.

"Lapangan parkir pariwisata hanya sebagai lokasi parkir. Banyak pegiat-pegiat kreatif lokal yang membawa nama Siantar sampai ke luar negeri. Sayangnya, tidak mendapat dukungan dari Pemko. Saya sendiri tidak merasakan peran pemerintah untuk pengembangan pariwisata,"ujarnya.

Sementara itu, Praktisi Hukum Daulat Sihombing menjabarkan tiga poin penting soal Siantar. Yang pertama demokratis, anarkis, dan friendly.

"Banyak rencana-rencana, seperti ruislag SMA, ruislag RSUD, dan pembangunan Tugu Sangnaualuh, yang batal,"ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Tommy Simatupang
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved