Belasan Kelompok Kera Hibur Pengunjung Wisata Alam Parapat Monkey Forest di Danau Toba

Direktur Utama BPODT, Arie Prasetyo mengatakan pihaknya akan memunculkan dua atraksi baru di kawasan Danau Toba, mulai 2019.

Belasan Kelompok Kera Hibur Pengunjung Wisata Alam Parapat Monkey Forest di Danau Toba
tribun medan/Sumber Dokumen BPODT
Suasana di Parapat Monkey Forest, wisata bernuansa atraksi di Kawasan Danau Toba yang dipenuhi oleh 13 kelompok kera. 

TRIBUN-MEDAN.com- Danau Toba (BPODT)'>Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) perlahan-lahan mulai mendorong pengembangan lokasi-lokasi wisata bernuansa atraksi di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara.

Dorongan ini, dimulai dari pembangunan fisik dan pembuatan konsep manajemen pengelolaan Parapat Monkey Forest di Desa Sibaganding, Kecamatan Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun.

Direktur Utama BPODT, Arie Prasetyo mengatakan pihaknya akan memunculkan dua atraksi baru di kawasan Danau Toba, mulai 2019.

"Dua wisata atraksi akan dimunculkan setiap tahun, dapat berupa lokasi baru atau lokasi lama yang direhabilitasi lagi (rebranding)," kata Arie, Senin (11/2/2019)

"Monkey Forest masuk tahun ini. Kami sudah punya masterplannya," tambahnya.

Arie menuturkan ada dua pekerjaan besar dalam upaya BPODT mendorong pengembangan lokasi wisata ini, yakni pembangunan fisik dan sistem manajemen pengelolaan.

Terkuak Gaji Pak Nur Khalim setelah Viral Video Dirinya Dilecehkan Siswa, Rp 450 Ribu per Bulan

Lion Air Akui Situasi Masih Sepi, Tapi Bantah Jumlah Penumpang Hanya 3 Orang

Mantan Pemain Atletico Ditegur Istrinya di Rumah karena Digocek Messi saat Bertanding

Keduanya perlu dilakukan secara beriringan sehingga begitu pembangunan fisik selesai, lokasi tersebut sudah memiliki sistem manajemen pengelolaan, dan dapat langsung menerima kunjungan wisatawan.

Terkait dengan pembangunan fisik, BPODT sepertinya tidak terlalu menemui kendala. Meski belum dapat merinci jumlah alokasi dana yang tersedia.

Haruka Eks Member JKT48 Blak-blakan Kisah Pilu Dirinya, Orangtua Cerai dan Tinggal di Panti Asuhan

Cristian Gonzales Resmi Hengkang dari PSS Sleman, Istri Ungkap Soal Klub Baru

Ronaldo Memang Jagoan, Sudah Ciptakan 18 Gol di Liga Italia Bersama Juventus

Tetapi, Arie memastikan bahwa kebutuhan biaya untuk pembangunan fisiknya sudah dianggarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Perhatian lebih besar lebih dibutuhkan dalam pembuatan sistem manajemen pengelolaan yang dapat menjamin keberlangsungan lokasi wisata tersebut.

Siswa yang Tantang Gurunya Berkelahi Menangis saat Minta Maaf di Kantor Polisi, TONTON VIDEONYA. .

Ronaldo Memang Jagoan, Sudah Ciptakan 18 Gol di Liga Italia Bersama Juventus

Dalam hal ini, selain KLHK, BPODT serta pihak keluarga yang mendiami lokasi itu, Arie meyakini cara terbaik adalah dengan ikut melibatkan Pemprov Sumut dan Pemkab Simalungun.

Menurutnya, semua tinggal bagaimana mencari formulasi yang tepat untuk membatasi tugas dan fungsi masing-masing pihak.

Ditanya mengapa mendorong wisata atraktif, Arie menerangkan bahwa meskipun wilayah Danau Toba, khususnya daerah Parapat, selama ini sudah menjadi obyek wisata, tetapi masih minim lokasi-lokasi atraksi.

"Parapat Monkey Forest menyimpan potensi itu. Bila dikemas dengan baik, bisa menjadi lokasi wisata atraktif tanpa membutuhkan biaya pengembangan yang besar," beber Arie.

Arie menjelaskan bahwa Parapat Monkey Forest dapat meniru Mandala Suci Wenara Wana atau Monkey Forest Ubud. Sebuah tempat cagar alam dan kompleks candi di desa Padangtegal Ubud, Bali, yang mempunyai kurang lebih 749 ekor monyet ekor panjang.

Arie menilai Monkey Forest Ubud sudah memiliki sistem manajemen yang bagus. Tempat ini dikelola masyarakat dan mendatangkan pendapatan yang tidak kecil dari tiket masuk, penjualan suvenir dan sumber kreatif lain.

Pelatih Chelsea Tolak Salaman dengan Guardiola setelah Timnya Dipecundangi 6 Gol Tanpa Balas

"Dari pendapatan tersebut mereka kemudian bisa membayar gaji petugas, biaya pemeliharaan dan pengeluaran lain, bahkan melakukan pengembangan fasilitas," ujar Arie.

Lebih lanjut, Parapat Monkey Forest sebenarnya didiami jumlah monyet jauh lebih banyak dari di Ubud. KLHK mencatat tempat itu menjadi kawasan bernaung 13 kelompok Kera, Beruk dan Siamang.

"Satu kelompok terdiri dari sekitar 100 ekor dan di dalam setiap kelompok terdapat 5 ekor babon atau induk sebagai pemimpin kelompok," pungkas Arie.

(cr9/tribun-medan.com)

Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Joseph W Ginting
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved