Khofifah Indar Parawansa Wanti-wanti Fadli Zon terkait Puisinya yang Berjudul Doa yang Ditukar

"Saya berharap bahwa Bang Fadli berbesar hati untuk meminta maaf, itu hal yang sangat baik jika dilakukan beliau (Fadli),"

Khofifah Indar Parawansa Wanti-wanti Fadli Zon terkait Puisinya yang Berjudul Doa yang Ditukar
TRIBUNSOLO.COM/ASEP ABDULLAH ROWI
Khofifah Indar Parawansa menghadiri Deklarasi Jaringan Kiai-Santri Nasional (JKSN) Solo Raya untuk capres dan cawapres nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf di GOR Sritex Arena, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Sabtu (9/2/2019). (TRIBUNSOLO.COM/ASEP ABDULLAH ROWI) 

Saat disinggung kengenai puisi yang ditulis Fadli Zon, Sa'roni mengatakan, hal itu merupakan puncak hingga akhirnya digelarnya aksi oleh para santri.

Sedianya, katanya, Fadli Zon telah berulang kali mencela kiai di kalangan Nahdlatul Ulama.

"Puisi bagian dari acara ini termasuk puncaknya. Kekesalan kami dimulai sudah yang lalu-lalu. Fadli Zon banyak sekali mencela kiai kami. Contoh ada kiai kami Yahya Cholil Tsaquf, ada kiai kami Kiai Ma'ruf Amin, dan lain sebagainya. Puncaknya kemarin (puisi Fadli Zon,red)," katanya.

Oleh sebab itu, dia meminta Fadli Zon maupun tokoh lainnya agar menghentikan sikap yang bernada hinaan kepada kiai.

"Mohon saudara Fadli Zon untuk menghentikan sikapnya atau tidak melanjutkan perbuatan yang suka mencela kiai kami," katanya.

Di akhir aksi, para santri mendeklarasikan diri menuntut politisi yang menghina kiai untuk meminta maaf.

 Selanjutnya, mereka juga meminta kepada elit politik untuk bersikap santun dalam berpolitik. 

RESPONS ANak Kiai Haji Maimun Zubair (Mbah Moen)

Putra Ulama NU atau Nadhlatul Ulama, Kiai Haji Maimun Zubair (Mbah Moen), Taj Yasin Maimoen angkat bicara soal puisi yang dibuat Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon.

Hal itu disampaikan Taj Yasin Maimoen atau Gus Yasin melalui sambungan satelit di acara 'Kompas Petang', Kompas TV, Rabu (6/2/2019).

Mulanya, pembawa acara menanyakan kepada Taj Yasin Maimoen soal puisi yang berjudul "Doa yang Ditukar" buatan Fadli Zon.

Menanggapi itu, Gus Yasin mengaku sudah membaca puisi Fadli Zon beberapa kali.

Lantas, Gus Yasin menyoroti kalimat 'Kau' yang ada di dalam puisi tersebut.

"Sudah membaca beberapa kali, di sini memang yang diperdebatkan kalimat 'kau'," ungkap Gus Yasin.

"Kau itu siapa? Okelah kalau kau itu bisa dikembalikan ke beberapa orang, memang tidak menyebutkkan nama, dan Mas Fadli juga kan sudah klarifikasi bukan ditujukan untuk Kiai Maimoen," kata dia menambahkan.

Meski begitu, Gus Yasin tetap menyayangkan puisi yang diciptakan oleh Fadli Zon.

Dirinya menilai Fadli Zon sebagai publik figur seharusnya memberikan contoh yang baik kepada masyarakat.

"Tetapi yang perlu saya sayangkan, Mas Fadli kenapa, sih, bikin seperti ini yang bikin gaduh, dia itu tokoh lho, dia itu public figure yang mestinya memberikan contoh yang baik kepada masyarakat, tidak menimbulkan kerisauan bahkan kemarahan," ujar Gus Yasin.

Bahkan, kata Gus Yasin, banyak santri Mbah Moen yang marah karena puisi Fadli Zon itu.

"Dan sekarang banyak para santri Kiai Maimoen yang marah atas puisi ini," beber dia.

Gus Yasin juga menilai puisi Fadli Zon terkesan menurunkan derajat Kiai Maimoen.

"Yang saya sayangkan lagi di sini beliau mengatakan 'kenapa kau tukar', 'direvisi sang bandar', ini mengatakan bahwa Kiai Maimoen bisa didikte."

"Dia (Fadli Zon) menurunkan derajat Kiai Maimoen yang saya anggap Mujtahid, yang tidak bisa dipengaruhi oleh siapa pun, dia (Mbah Moen) punya feeling dan insting politik untuk kemashalatan masyarakat," tandas Gus Yasin.

Saat ditanya apakah keluarga marah atas puisi itu, Gus Yasin tidak menampiknya.

Kendati demikian, Gus Yasin berusaha untuk menenangkan agar tidak terjadi perdebatan.

"Jadi kemarahan beliau bahwa Kik, kok Kiai di kau-kau kan, ini sekilas membaca memang kau tukar, bisa mengartikan Kiai Maimoen yang menukar bisa orang yang menukar, artinya terlepas itu Mas Fadli menurunkan martababat Kiai Maimoen. Itu membuat marah masyarakat."

"Saya juga sudah banyak alumni para santri yang menghubungi saya menyatakan 'Mas Fadli ini bagaiamana Gus, harus dikasih peringatan'."

"Saya bilang janganlah enggak usah kita perdebatkan, tidak usah. Saya sudah meredam yang penting ini berjalan dengan baik," urai Gus Yasin.

Simak video selengkapnya di bawah ini:

Diberitakan sebelumnya, komunitas NU menuntut agar Fadli Zon meminta maaf atas puisi yang dibuatnya.

Hal ini diungkapkan satu di antara akun Nahdatul Ulama, @netizen_NU, pada Rabu (6/2/2019).

Akun Twitter tersebut meminta Fadli Zon untuk segera meminta maaf terkait puisi yang dibuat oleh Fadli Zon, pada Minggu (3/1/2019) lalu.

NU juga mengunggah gambar yang berlogokan NU dan Netizen NU.

"Halo Bung @fadlizon kami Netizen NU dan para Santri menuntut Anda untuk segera meminta maaf," tulis Netizen NU.

Sementara pada gambar yang diunggah, terdapat tulisan bahwa netizen NU tersinggung dengan puisi yang dibuat oleh Fadli Zon.

"Halo Bung Fadli Zon!!

Kami para netizen NU dan Santri-santri kalangan Nahdatul Ulama sangat tersinggung dengan puisi yang anda buat. Kami menuntut Anda segera meminta maaf pada Mbah Kiai Maimoen khususnya dan warga Nahdatul Ulama umumnya," tulisan pada gambar.

Kicauan itu juga turut mendapatkan retweet dari akun Twitter resmi Nahdlatul Ulama, @Nahdlatululama.

Retweet dari akun resmi Nahdatul Ulama
Retweet dari akun resmi Nahdatul Ulama (Twitter @nahdatululama)

Sementara itu, berikut isi puisi dari Fadli Zon yang berjudul 'Doa yang Ditukar'.

Doa yang Ditukar

Doa sakral
Seenaknya kau begal
Disulam tambal
Tak punya moral
Agama diobral

Doa sakral
Kenapa kau tukar
Direvisi sang bandar
Dibisiki kacung makelar
Skenario berantakan bubar
Pertunjukan dagelan vulgar

Doa yang ditukar

Bukan doa otentik
Produk rezim intrik
Penuh cara-cara licik
Kau Penguasa tengik

Ya Allah
Dengarlah doa-doa kami
Dari hati pasrah berserah
Memohon pertolonganMu
Kuatkanlah para pejuang istiqomah
Di jalan amanah

Fadli Zon
Parung, Bogor, 3 Feb 2019

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunsolo.com dengan judul Khofifah Minta Fadli Zon Meminta Maaf ke Mbah Moen soal Puisi "Doa yang Ditukar"

Editor: Randy P.F Hutagaol
Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved