Kisah Mantan Preman Bagus Suratman jadi Petani Panutan, Kini Bina Belasan Pria Bertato

Kisah Mantan Preman Bagus Suratman jadi Petani Panutan, Kini Bina Belasan Pria Bertato

Kisah Mantan Preman Bagus Suratman jadi Petani Panutan, Kini Bina Belasan Pria Bertato
BBC NEWS INDONESIA
Kisah Mantan Preman Bagas Suratman jadi Petani Panutan, Kini Bina Belasan Pria Bertato. Sebelum menjadi petani, Bagas menjajal berbagai profesi, termasuk jadi porter bandara dan kondektur angkutan 

Setelah menuntaskan sekolahnya di sekolah tinggi kejuruan di Klaten, Jawa Tengah, dia sempat bekerja sebagai kuli bangunan. Tak lama kemudian, dia menyusul orang tuanya yang tinggal di Jakarta.

Bagas
Sebelum memutuskan menjadi petani, Bagas menjajal berbagai profesi, termasuk jadi porter bandara dan kondektur angkutan/BBC NEWS INDONESIA

"Pahit, pokoknya," ujarnya sambil tertawa, mengingat masa lalunya.

Kemudian, dia memutuskan untuk membantu ibunya berjualan sayur di pasar dan mulai berjualan buah dengan modal yang diberi orang tuanya.

"Sukses, [jual] buah di Kebayoran, [Pasar] Induk Kramatjati siapa yang nggak kenal Bagas dulu," selorohnya.

Bagas
Tak betah dengan pekerjaannya sebagai porter bandara, Bagas akhirnya banting setir menjadi penjual sayur dan buah/BBC NEWS INDONESIA

"Kita bawa sayurannya yang bagus-bagus, yang super-super. Orang pasar nafsu tuh," kata dia.

"Pokoknya dulu terkenal, Bagas itu barang kalau nggak super nggak mau, baru lah kita booming, orang Pasar Minggu, orang Ciputat pada minta ke saya," imbuhnya.

Dengan semakin larisnya dagangan, dia pun menukarkan motor yang biasa dia pakai untuk mendistribusikan sayuran dan buah dengan mobil yang dibelinya dengan meminjam uang ke rentenir.

Mobil bak itu hingga kini tetap disimpannya sebagai kenang-kenangan atas perjuangannya di masa lalu.

Bagas Suratman
Selain memberikan lapangan pekerjaan, apa yang dilakukan Bagas juga memberi petani muda secercah harapan untuk masa depan/BBC NEWS INDONESIA.

Merintis bisnis

Melihat potensi keuntungan yang lebih besar, pada 2004 Bagas akhirnya memutuskan untuk berkebun dan menanam sayuran dan buah dengan pengetahuan berkebun dia pelajari secara otodidak.

"3.000 meter persegi waktu itu. Abis itu permintaan banyak, jadi selama delapan tahun itu saya nggak mikirin hasil, dalam arti armada kita banyakin, yang jelas lahan kita banyakin, rekrutmen pekerjaan orang-orang yang bekerja kita tarik semua, akhirnya seperti ini," tutur Bagas.

Halaman
1234
Editor: Tariden Turnip
Sumber: bbc
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved