Kisah Mantan Preman Bagus Suratman jadi Petani Panutan, Kini Bina Belasan Pria Bertato

Kisah Mantan Preman Bagus Suratman jadi Petani Panutan, Kini Bina Belasan Pria Bertato

Kisah Mantan Preman Bagus Suratman jadi Petani Panutan, Kini Bina Belasan Pria Bertato
BBC NEWS INDONESIA
Kisah Mantan Preman Bagas Suratman jadi Petani Panutan, Kini Bina Belasan Pria Bertato. Sebelum menjadi petani, Bagas menjajal berbagai profesi, termasuk jadi porter bandara dan kondektur angkutan 

Bagas kemudian mengajak anak-anak muda untuk mengolah kebunnya.

"Petani sekarang kan umurnya 50 sampai 60 tahun, mereka sebentar lagi mungkin pensiun. Jadi, siapa lagi yang akan meneruskan pertanian di Indonesia?."

Dakir
Dakir adalah salah satu puluhan petani muda yang dibina Bagas Suratman/BBC NEWS INDONESIA

"Anak-anak muda ini harus kita kasih pengetahuan atau skill untuk menggantikan para petani yang sudah tua," jelas Bagas.

Tak hanya para pemuda yang ikut mengolah lahan, para ibu yang tinggal di sekitar juga ikut pada masa produksi dan paskaproduksi. Lisda adalah salah satunya.

"Namanya sebagai ibu rumah tangga, anak saya masih sekolah saya butuh biaya, ya terpaksalah saya kerja di sini, ikat kemangi sembari becanda sama teman. Kalau di rumah kan saya istilahnya jenuh lah," kata dia.

Uang yang dihasilkan tiap hari tergantung pada seberapa banyak jumlah ikatan yang dia hasilkan. Namun menurutnya, lumayan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

"Saya kadang-kadang dapatnya Rp35.000, kadang-kadang Rp 25.000, tergantung pendapatan saya. Kan saya belum rapi ngiket kemangi, namanya baru belajar," jelas perempuan berusia 54 tahun ini.

Lisda yang sudah dua tahun membantu Bagas dalam proses paska-panen, mengaku betah dengan kerjaan sambilannya ini.

"Suka banget saya bekerja begini, lebih senang daripada saya di rumah bengang-bengong nggak karuan ya lebih baik saya ikut kerja begini, iketin kemangi."

Ibu-ibu teluk naga
Bagas mengikut sertakan ibu-ibu rumah tangga di Teluk Naga dalam pasca-panen/BBC NEWS INDONESIA

Tak cuma itu, pemuda pesantren yang belum memiliki pekerjaan pula dirangkulnya.

Ketua kelompok pemuda santri, Abdul, menuturkan, Bagas mengajak mereka untuk mengelola lahan sejak tahun lalu. Setidaknya, sepuluh santri kini menjadi petani.

"Bos Bagas ini bisa merangkul, mengajak bahkan menolong pemuda-pemuda sini yang pengangguran lah, istilah kata, jadi sekarang bisa bercocok tanam di sini dan membantu perekonomian keluarga," kata Abdul.

Petani
Abdul, salah satu santri yang juga dibina oleh Bagas Suratman/BBC INDONESIA

"Untuk organisasi ini ada kegiatan, jadi dampaknya sangat baik sekali lah bagi kami semua sebagai pemuda,"imbuhnya.

Sejak awal, Bagas mengatakan ia mengurusi sendiri pemasaran produknya, tanpa perantara tengkulak.

"Jadi marginnya lebih gede, mungkin 40%-50% pasti ada selisih harga."

Apa yang mereka capai saat ini, menurutnya, tidak lepas dari kedisiplinan yang dia tanamkan kepada para petani muda.

Bagas
Panen raya yang digelar 23 Januari lalu, dihadiri oleh Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar/BAGAS SURATMAN

"Petani yang bagus itu jangan asal nanam, kita harus rawat juga itu tanaman. Jadi kualitas yang kita utamakan, terus kuantitasnya harus berani," tegasnya.

Kontinuitas kualitas dan kuantitas produk, juga menjadi prioritas. Demi menjaga kontinuitas kuliatas dan kuantitas panen, dia pun tak menerapkan hari libur bagi para petaninya.

"Petani nggak ada hari liburnya. Kalau capek, ya istirahat. Begitu aja."

"Karena kita sudah kesepakatan sama perusahaan, kita sudah berjanji bahwa H+2 kita harus bisa nyuplai sayuran ke mereka," kata dia.

Bagas
Kepada para petani binaanya, Bagas menekankan disiplin dan etos kerja yang baik/BBC NEWS INDONESIA

Ia menyatakan senang melihat para petani muda yang dibinanya bisa mendapatkan penghasilan secara teratur.

"Biasa yang kita didik untuk bertani alhamduillah ada yang bisa punya motor, ada yang beli ternak kambing, dan membantu orang tuanya untuk bercocok tanam lagi," kata Bagas.

"Untuk ibu-ibu masyarakat di sini alhamdulillah bisa untuk tambah-tambah beli lauk."

"Kalau untuk saya sendiri, intinya supaya bisa nyekolahin anak," imbuhnya.

Menjadi petani, lanjut Bagas, dibutuhkan mental kuat, "harus berani kotor, berani kepanasan, berani bau."

Ini videonya:

TAUTAN: Dari 'lontang lantung', jadi preman, kondektur angkutan kota sampai menjadi petani panutan

Ayomi Amindoni dan Anindita Pradana, BBC News Indonesia

 
Editor: Tariden Turnip
Sumber: bbc
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved