DBD jadi Momok di Sumut, Ini Kata dr Ayodhia Pitaloka Pasaribu Penyebab Anak-anak Rentan Terserang

Data dihimpun dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumut, sepanjang tahun 2018 terjadi 5.728 kasus DBD di Sumut. Lebih separuhnya adalah anak-anak.

DBD jadi Momok di Sumut, Ini Kata dr Ayodhia Pitaloka Pasaribu Penyebab Anak-anak Rentan Terserang
TRIBUN MEDAN/DOHU LASE
Dokter spesialis anak sekaligus konsultan infeksi tropis pada RSUP H Adam Malik (HAM) Medan, dr Ayodhia Pitaloka Pasaribu (kanan) saat ditemui, Selasa (12/2/2019). Didampingi Kasubbag Humas RSUP HAM Medan Rosario Dorothy (kiri). 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Akhir-akhir ini penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi momok bagi masyarakat Sumut.

Cuaca hujan diselingi panas terik yang terjadi silih berganti membuat nyamuk Aedes Aegepty mudah berkembang biak dan kemudian menyebarkan virus dengue.

Bukan rahasia lagi bila wabah DBD lebih banyak menyerang anak-anak. Baru-baru ini saja, di Kabupaten Mandailing Natal ada satu anak berumur di bawah 15 tahun meninggal dunia karena DBD.

Data dihimpun dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumut, sepanjang tahun 2018 terjadi 5.728 kasus DBD di Sumut. Lebih separuhnya adalah anak-anak.

Data tersebut menunjukkan, untuk golongan umur 0-14 tahun jumlah penderita DBD ada sebanyak 2.697 kasus. Angka itu masih akan bertambah jika data pasien umur 15-18 tahun dipisahkan dari data kasus golongan umur 15-44 tahun, yang berjumlah 2.089 kasus.

Dokter spesialis anak sekaligus konsultan infeksi tropis pada RSUP H Adam Malik (HAM) Medan, dr Ayodhia Pitaloka Pasaribu MKed(Ped) SpA PhD (CTM) mengungkapkan, anak-anak memang lebih rentan terkena DBD.

Di samping karena kekebalan tubuh masih rendah, anak-anak cenderung lebih rentan karena lebih sering berada di ruangan.

"Iya, betul. Faktor daya tahan (kekebalan) tubuh memang berpengaruh juga," kata Ayodhia, Selasa (12/2/2019).

Ayodhia menyebut, faktor lingkungan lah yang paling mempengaruhi, sebab masih banyak masyarakat golongan orang dewasa, khususnya para orangtua, belum memiliki kesadaran untuk memperhatikan kondisi sekitar rumah.

"Nyamuk Aedes Aegepty ini kan berkembang biak di air bersih yang tergenang. Lingkungan rumah yang banyak nyamuk tak mesti kumuh. Bisa saja dia bersih, tetapi banyak barang yang menampung air jernih di dalamnya, seperti bak mandi, penampung tumpahan air di dispenser, vas bunga yang menggunakan air, ban bekas, kemudian wadah-wadah yang tak sengaja menampung air hujan di pekarangan," katanya.

Halaman
12
Penulis: Dohu Lase
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved