Pedagang Pasar Marelan Diancam dan Dikutip Iuran, Kepala Pasar Klaim Sesuai Aturan

Kutipan tersebut tidak disertai bukti, sehingga pedagang menolak membayar karena dianggap pungutan liar.

Pedagang Pasar Marelan Diancam dan Dikutip Iuran, Kepala Pasar Klaim Sesuai Aturan
TRIBUN MEDAN/LISKA RAHAYU
Kacab III PD Pasar Ismail Pardede bersama Kepala Pasar Marelan M. Din saat ditemui guna konfirmasi keluhan pedagang Pasar Marelan, Rabu (13/2/2019). Din mengatakan tidak ada ancaman dan kutipan liar yang dilakukan terhadap pedagang. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kepala Pasar Marelan M. Din mengklarifikasi terkait tuduhan pedagang mengenai kutipan yang dilakukan oleh oknum Perusahaan Daerah (PD) Pasar. Sebelumnya pedagang mengatakan, PD Pasar mengutip iuran sejumlah Rp 5000 untuk kebersihan dan jaga malam.

Namun kutipan tersebut tidak disertai bukti, sehingga pedagang menolak membayar karena dianggap pungutan liar. Tak hanya itu, pedagang mengaku diancam jika tidak membayar iuran tersebut.

"Kita kutip kebersihan dan jaga malam, inilah yang disebut mereka Rp 5000 itu. Saya perintahkan anggota saya kutipan kebersihan untuk sampah segala macamnya, itu Rp 1600. Untuk jaga malam Rp 2000. Diperintahkan kutipan sesuai aturan yang berlaku," kata Din didampingi Kepala Cabang III PD Pasar Ismail Pardede, Rabu (13/2/2019).

Din menjelaskan pedagang dikutip sebesar Rp 3600 tersebut adalah pedagang yang berjualan di halaman gedung pasar. Pedagang tersebut ditempatkan sementara di tenda-tenda dan hanya khusus untuk pedagang buah saja.

Mengenai ancaman yang menyuruh pedagang untuk berjualan di belakang, ia menjelaskan karena memang area tersebut hanya untuk pedagang buah. Sementara pedagang yang keberatan tersebut berjualan selain buah, seperti ubi.

"Kenapa disuruh ke belakang, karena memang itu bukan tempatnya. Di depan itu tempat jualan buah. Tidak ada ancaman," kata Din.

Kendati demikian, ia mengatakan, jika ada pedagang yang merasa diancam dan dikutip tidak sesuai aturan, maka bisa dilaporkan ke Kepala Pasar atau pihak berwajib. Ia pun menegaskan ada bukti atau karcis kutipan yang diberikan kepada pedagang. Di dalam karcis itu pun tertera berapa jumlah yang harus dibayarkan.

Sementara itu, terkait 57 meja yang kosong, ia mengatakan meja-meja tersebut bukanlah dijanjikan. Melainkan meja kosong yang tersedia untuk diisi oleh pedagang.

"57 meja yang kosong ini, bagi yang mau ditempatkan kepala pasar, silakan datang. Yang sudah bayar dp, silakan datangi PD Pasar biar bisa ditempatkan," jelasnya.

Sementara itu, seorang pedagang bumbu di Pasar Marelan Rosni Sembiring berharap kenyamanan mereka berjualan tidak terganggu dengan adanya kisruh antara pedagang di halaman gedung Pasar Marelan dengan PD Pasar.

Para pedagang yang berjualan di dalam gedung sudah berjualan dengan nyaman dan tidak ada masalah terhadap kebijakan PD Pasar tersebut.

"Sudah lama saya jualan di sini. Janganlah sampai terganggu kami yang jualan di dalam ini. Kami mau jualannya di sini," kata Rosni.

(cr5/tribun-medan.com)

Penulis: Liska Rahayu
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved