Jembatan Sungai Petani Berubah Kontruksi Akibat Galian C di Namorambe

saat ini pihaknya sudah tidak lagi memiliki dokumen mengenai data perihal jembatan ini sebab persoalan swakelola di Deliserdang sempat ditangani.

Jembatan Sungai Petani Berubah Kontruksi Akibat Galian C di Namorambe
TRIBUN MEDAN/INDRA GUNAWAN SIPAHUTAR
Jembatan sungai petani kawasan Namorambe yang berubah kontruksi akibat adanya aktivitas galian C beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com-Jembatan sungai petani yang ada di kawasan Kecamatan Namorambe Kabupaten Deliserdang berubah konstruksinya diduga akibat adanya aktivitas Galian C yang berada di wilayah tersebut.

Hal ini terungkap pada saat dilakukannya Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi D DPRD Deliserdang dengan mengundang Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) II, Dinas PUPR dan juga Dinas Perhubungan Deliserdang, Pemerintah Kecamatan Namorambe serta Pemerintahan Desa di sekitar jembatan sungai petani tersebut Senin, (18/2/2019).

Jembatan di sungai petani ini merupakan jembatan yang menghubungkan antara Desa Namo Landur dengan Desa Klawas.

Kepala Dinas PUPR, Donald Lumbantobing menyebut kalau jembatan sungai petani ini dibangun pada tahun 2005 dengan pola swakelola. Dirinya menjelaskan saat ini pihaknya sudah tidak lagi memiliki dokumen mengenai data perihal jembatan ini sebab persoalan swakelola di Deliserdang sempat ditangani oleh penegak hukum (Kejaksaan) pada saat masa Kepala Dinas sebelumnya. Ia sepakat perubahan kontruksi pada jembatan terjadi akibat adanya aktivitas galian.

" Sudah kita cari data jembatan ini tapi sudah tidak ada. Apakah karena persoalan hukum makanya sudah tidak ada lagi (telah disita), tapi sesuai identifikasi kita jembatan dibangun tahun 2005. Kita akan meminta nanti sama Dinas Perhubungan untuk membatasi aktivitas kendaraan yang melebihi batas. Pondasi memang kita lihat sudah tergerus akibat galian. Apabila sudah ditertibkan akan kita lakukan penguatan (perbaikan),"ujar Donald.

Pada saat itu dua Kades Gunung Klawas, Reno Ginting dan Kades Namolandur, Aditia Jaya Sembiring sempat memberi komentar mengenai apa yang terjadi. Mereka menyebut sebenarnya aktivitas galian C sudah puluhan tahun terjadi. Untuk pembangunan pondasi jembatan sudah beberapa kali dilakukan karena hancur setelah dibangun.

" Kalau sekarang aktivitas galian di dekat jembatan itu sudah tidak ada lagi. Jikapun ada truk di sungai itu hanya lintasan truk saja. Sekarang di dekat jembatan itu hanya tinggal lumbung saja dibuat (tempat mengambil batu-batu besar). Kalau galiannya aslinya ada di dalam-dalam (dekat kawasan hutan). Kalau mau ditertibkan aktivitas di dekat jembatan ya tidak bisa karena tidak ada aktivitas kalau yang ada beco nya itu ya di dalam-dalam,"kata Reno Ginting.

Tidak jauh berbeda dengan Reno Aditia Jaya Sembiring juga menambahkan aktivitas galian sebenarnya sudah sangat lama bahkan saat dirinya masih duduk di bangku sekolah. Ia juga heran mengapa hingga kini belum ada tindaklanjut untuk dilakukan penghentian. Jembatan berukuran kurang lebih 70 meter dan lebar 2 meter itu merupakan jembatan penghubung yang setiap harinya dilalui oleh siswa SMA Negeri 1 Namorambe.

Jembatan sungai petani ini dianggap telah berubah konstruksinya akibat sudah hancurnya tiang beton penyangga. Hal ini diduga diakibatkan perubahan kontruksi tanah yang sudah rusak di sekitar sungai. Dewan khawatir jika aktivitas galian C ilegal tidak dihentikan akan mengakibatkan dampak yang membahayakan bagi keselamatan warga yang menyebrang sungai.

(dra/tribun-medan.com)

Penulis: Indra Gunawan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved