BPODT Berencana Sulap Parapat Monkey Forest jadi Atraksi Wisata Berkelas

Monkey Forest punya potensi value tinggi, tinggal bagaimana caranya mengelola Monkey Forest untuk mendatangkan perekonomian

BPODT Berencana Sulap Parapat Monkey Forest jadi Atraksi Wisata Berkelas
TRIBUN MEDAN/BPODT
Obyek wisata Parapat Monkey Forest di Sibaganding. 

TRIBUN-MEDAN.com- Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) bakal konsen untuk membenahi Parapat Monkey Forest, yang dinilai punya potensi besar jadi obyek andalan, kalau dikemas dengan baik.

Direktur Utama BPODT, Arie Prasetyo mengatakan bahwa pihaknya telah membicarakan hal itu kepada pengelola Monkey Forest. Karena ada masalah isu pengelolaan.

"Monkey Forest punya potensi value tinggi, tinggal bagaimana caranya mengelola Monkey Forest untuk mendatangkan perekonomian. Baik buat pengelola dan masyarakat sekitar memberikan manfaat serta buat wisatawan juga bakal ada atraksi," kata Arie, Selasa (19/2/2019).

Arie menuturkan Parapat sebetulnya sejak lama sudah menjadi kota wisata, tetapi minim atraksi. Monkey forest ini kalau dikemas dengan baik, tidak membutuhkan cost besar, bisa menjadi atraksi.

"Saya targetkan tiap tahun bisa memunculkan dua atraksi baru. Baik itu yang benar-benar baru maupun rebranding dari yang lama. Monkey forest masuk tahun ini. Kami sudah punya masterplannya dan ternyata pembangunan fisiknya sudah dianggarkan Kementerian Lingkungan Hidup untuk Aek Nauli," ungkap Arie.

Belasan Kelompok Kera Hibur Pengunjung Wisata Alam Parapat Monkey Forest di Danau Toba

BPODT Sambut Baik Pembangunan 7 Hotel Berbintang di Danau Toba

Dirut BPODT Arie Prasetyo Dukung PT KAI Buka Rute Medan-Parapat

Arie menjelaskan bahwa The Best Monkey Forest di Indonesia itu Benchmarknya di Ubud. Karena mereka punya manajemen yang bagus, dikelola masyarakat, mendatangkan revenue yang tidak kecil.

Revenue yang didatangkan dari tiket, bisa membuat mereka sustain. Cukup untuk membayar gaji, membayar kebersihan dan sebagainya, bahkan bisa mengembangkan fasilitas.

Masih kata Arie, semua dibiayai dari situ, tidak ada lagi intervensi pemerintah. Ada atraksi di sana, seperti makan pagi dengan orangutan. Kalau tidak salah orang bayar Rp 1-1,5 juta untuk makan pagi, di sebelahnya ada orangutan.

Malam Ini Purnama Perige Super Snow Moon, Bulan Lebih Besar dan Sangat Cerah

Artis Arumi Bachsin Alami Keguguran, Begini Kondisi Terkini Istri Wakil Gubernur Jatim Itu

Detik-detik Panggung Karnaval di Argentina Roboh, Puluhan Penonton Luka-luka hingga Patah Kaki

Purnawirawan TNI Arnold Tambunan Ditemukan Tinggal Tengkorak, Hilang Saat Menagih Utang Kepada Teman

Lebih lanjut, Arie paparkan bahwa di Monkey Forest ada tiga jenis monyet, ada beruk, kera dan siamang. Siamang memang agak susah datang kalau dipanggil, tapi kalau beruk dan kera, kalau ada pisang dan ditiup terompet, pasti mereka datang.

Suasana di Parapat Monkey Forest, wisata bernuansa atraksi di Kawasan Danau Toba yang dipenuhi oleh 13 kelompok kera.
Suasana di Parapat Monkey Forest, wisata bernuansa atraksi di Kawasan Danau Toba yang dipenuhi oleh 13 kelompok kera. (tribun medan/Sumber Dokumen BPODT)

"Yang seperti ini sebenarnya bisa kita lakukan. Tinggal pembenahannya dari sisi fasilitas, seperti toilet, toko suvenir, parkir yang memadai, dsb. Lini bisnisnya bisa banyak, bukan hanya dari tiket tetapi juga bisa dari jualan makanan. Banyak tempat atraksi hewan di Jawa, kita mau ngasih makan mereka jual makanannya. Banyak model-model bisnis turunan yang bisa kita kembangkan sehingga bisa sustain, tidak disupport terus," urai Arie.

Enam Polisi Dipecat Kapolres Kombes Budhi Ingatkan Nasib Norman Kamaru yang Lupa Kulitnya

Detik- detik Menko Luhut Pandjaitan Datangi Ferdinand Hutahaean yang Ribut saat Debat Capres. .

Abdul Hakim Minta Polisi Melihat Petunjuk Teknis saat Melakukan Penyelidikan Kasus Dugaan Korupsi

Halaman
12
Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Joseph W Ginting
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved