Wajib Berpantun bagi Masyarakat Tamiang

beragam suku di antaranya Jamee, Aceh, Kluet, Gayo, Alas, Tamiang. Masing-masing memiliki bahasa dan kebudayaan yang berbeda.

Wajib Berpantun bagi Masyarakat Tamiang
TRIBUN MEDAN/HO
Himpunan Mahasiswa Tamiang (HMT) Medan dalam satu kegiatan beberapa waktu lalu 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Indonesia adalah negara yang berbudaya dan beragam. Ada 633 kelompok suku besar di Indonesia (BPS,2015).

Untuk itu, tidak akan ada habisnya mengulas kebhinnekan yang ada di bumi pertiwi ini. Seperti halnya Aceh, provinsi yang beribukotakan di Banda Aceh ini memiliki beragam suku di antaranya Jamee, Aceh, Kluet, Gayo, Alas, Tamiang. Masing-masing memiliki bahasa dan kebudayaan yang berbeda.

Satu yang dibahas adalah Tamiang. Daerah pemekaran dari Aceh Timur pada 2002 ini terletak di perbatasan antara Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Aceh. Secara mayoritas, penduduk ibukota kabupaten di Kuala Simpang ini bersuku Jawa. Namun, di beberapa kecamatan, dihuni kebanyakan oleh orang Tamiang.

"Tamiang itu pecahan dari Suku Melayu. Tetapi, raja aslinya itu orang asli Tamiang. Kultur awalnya Melayu Riau atau Deli belum pasti. Ada juga yang bilang pecahan Samudra Pasai," ungkap Demisioner Himpunan Mahasiswa Tamiang (HMT) Medan Muhammad Syukron Arika kepada Tribun, Selasa (19/2/2019).

Itam artinya hitam. Mieng itu pipi. Raja Muda Sedia, Raja Tamiang, itu pipinya hitam. Dari situlah berasal nama Tamiang, katanya. Kebiasaan Tamiang pun, dilihat mirip dengan masyarakat melayu yaitu laga pantun di setiap adat pernikahan.

"Laga pantun itu wajib di acara pernikahan. Setiap orang Tamiang yang menikah, wajib berpantun. Biasanya yang mengajukan pantun pertama kali adalah dari pihak perempuan ke pihak laki-laki apakah maksud tujuan mereka datang," ungkapnya.

Laki-laki yang akrab disapa Ari ini mengatakan, pantun yang disampaikan tentang maksud kedatangan lalu beralih ke agama.

"Waktunya bisa sampai satu jam berbalas pantun. Tetapi, di luar kepala, menggunakan Bahasa Tamiang dan menggunakan lagu khasnya Tamiang. Berbalas pantun itu dilakukan setelah akad untuk mempertemukan mempelai perempuan dan laki-laki. Pihak laki-laki juga membawa hasil bumi, misalnya padi, tebu, pisang, kelapa," tambahnya.

Hingga sekarang, kata Ari, masyarakat tidak ingin menghilangkan kebudayaan itu. Laga pantun disetiap pernikahan yang dilakukan baik di rumah maupun di gedung, akan memanggil ketua adat dan mengurusi hal tersebut.

Sebagai orang yang tinggal di Tamiang sejak lahir, Ari mengaku harus ada yang terus melestarikan kebudayaan ini terutama anak muda. Untuk itu, di HMT, mereka juga belajar berpantun di sanggar.

Halaman
12
Penulis: Nanda Rizka Nasution
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved