Diwisuda Langsung Rektor USU, Benardus Merasa Gugup dan Canggung

Benardus Simbolon, mahasiswa difabel dari Jurusan Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya USU tampak gugup mengikuti wisuda

Diwisuda Langsung Rektor USU, Benardus Merasa Gugup dan Canggung
TRIBUN MEDAN/Liska Rahayu
Wisudawan FIB USU Benardus berfoto bersama Rektor USU Prof. DR Runtung Sitepu dan Dekan FIB USU Budi Agustono di Auditorium USU, Selasa (26/2/2019). 

TRIBUN-MEDAN.Com, MEDAN - Benardus Simbolon, mahasiswa difabel dari Jurusan Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU) tampak gugup mengikuti wisuda di Auditorium USU, Selasa (26/2/2019).

Bersama ibunya, Benardus tampak berkali-kali memperbaiki toga wisuda dan selempangnya. Sesekali ia juga berbisik kepada ibunya dan ibunya hanya tertawa sembari mengangguk. 

Rangkulan tangan ibunya tampak kuat di bahu kanan Benardus.

Tampaknya ia tahu bagaimana putranya itu gugup menjalani wisuda. Bagaimana tidak gugup, Benardus menjadi wisudawan yang diwisuda langsung oleh Rektor USU Prof. DR Runtung Sitepu.

Saat Rektor Runtung menuruni panggung untuk mewisuda dirinya, Benardus berdiri dengan gugup ditemani ibunya. Ia bersalaman dengan rektor dan dekan FIB USU, bahkan foto bersama. Usai diwisuda, Benardus mengaku sangat canggung dan gugup.

"Sebenarnya canggung. Tadi sudah minta ikut ke atas, dibantu sama yang lain, tapi katanya rektor yang akan turun. Didatangi rektor siapa kali rupanya aku," kata Benardus diiringi senyum.

Benardus adalah mahasiwa USU yang penglihatannya tidak sempurna. Tak bisa dikatakan tunanetra, sebab ia mengaku masih bisa melihat walau tidak jelas. Meski begitu, ia tetap tidak bisa melihat dengan normal.

Meski berkebutuhan khusus, Benardus ternyata sangat mandiri. Mahasiswa asal Samosir ini ngekos bersama teman-temannya dan naik angkot ke kampus sendiri. Meskipun saat awal-awal kuliah, ia dibantu oleh seniornya.

"Kalau dikelas, saya minta diperlakukan sama seperti yang lain. Tapi kalau ujian tulis, kadang dibantu teman," jelasnya.

Menyukai alat musik saxophone, ternyata Benardus memiliki hobi musik, meski awalnya ia mengaku masuk Etnomusikologi hanya karena disuruh kuliah saja.

"Sebenarnya masik Etno karena disuruh kuliah juga, gak tahu mau ngambil apa. Tapi waktu kecil cita-cita mau jadi pemusik," katanya.

Lulus dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,2 Benardus ingin melanjutkan pendidikannya ke S2. Namun jika ada beasiswa.

Sementara itu, ibunya Nur Sita Malau mengaku sangat senang Rektor USU mewisuda langsung anaknya. Datang dari Samosir sejak Jumat (22/2/2019) lalu, ia mengaku bangga melihat anaknya wisuda.

"Senanglah. Semangat melihatnya. Bangga dia wisuda," ujarnya. (Cr5/tribun-medan.com)

Penulis: Liska Rahayu
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved