Potret Warga Miskin di Deliserdang, 18 Tahun Tinggal di Gubuk Reot yang Ada di Hutan

Di dalam gubuk ini juga Husni meletakkan peralatan dapurnya yang hanya terbatas seperti mangkok mangkok dan kuali kecil.

Potret Warga Miskin di Deliserdang, 18 Tahun Tinggal di Gubuk Reot yang Ada di Hutan
TRIBUN MEDAN/INDRA GUNAWAN SIPAHUTAR
Husni berdiri di dalam gubuk reotnya yang berada di Desa Bangun Purba,Kecamatan Bangun Purba, Deliserdang, Selasa (26/2/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Kehidupan yang sangat memprihatinkan dialami oleh Husni (65) warga Desa Bangun Purba Kecamatan Bangun Purba Kabupaten Deliserdang.

Sudah 18 tahun lamanya ia tinggal di gubuk reyot dan lapuk area perkebunan milik warga. Gubuk berukuran 2,5 meter x 1,5 meter itu pun sudah tampak disokong dengan puluhan kayu dan bambu.

Dinding gubuk hanya terbuat dari karung-karung bekas dan spanduk-spanduk tua. Untuk bagian pintu hanya dibuat dari plastik hitam yang juga sudah mulai berkoyakan. Pada bagian atapnya dibuat juga ala kadarnya karena hanya ditempel seng-seng bekas dan juga papan triplek. Di siang hari karena ruangan di dalamnya kecil suhu pun cukup panas. 

Hal ini akan menjadi berbanding terbalik di saat malam hari karena kondisinya akan menjadi dingin.

Tidak ada aliran listrik di dalam gubuk ini karena pada malam hari Husni hanya menggunakan lampu penerangan dari lilin saja. Tempat tidur Husni di dalam gubuk ini hanya terbuat dari papan-papan bekas.

Di dalam gubuk ini juga Husni meletakkan peralatan dapurnya yang hanya terbatas seperti mangkok mangkok dan kuali kecil.

Saat diwawancarai Tribun di lokasi Selasa, (26/2/2019), Husni mengaku kalau dirinya sehari-hari bekerja serabutan. Apa saja yang disuruh warga selagi masih bisa ia lakukan pasti akan dilakukan. Dikenal oleh sekeliling warga kalau Husni sebagai tukang panjat pohon kelapa.

Dijelaskannya, gubuk miliknya ini sudah berumur hampir empat tahun.

"Kalau lahannya ini punya bapak Ridwan. Dia orang sini. Sudah 18 tahun saya tinggal di sini cuma sudah empat kali pindah-pindah juga tapi masih di area lahan yang sama. Saya sendiri yang buat ini memang tidak ada pakai-pakai kayu semuanya diikat pakai tali. Kalau saya bilangnya gubuk derita lah. Dari empat gubuk yang pernah saya buat inilah yang paling bagus," kata Husni.

Husni mengaku untuk persoalan buang air kecil ataupun air besar ia melakukannya di sungai yang tidak jauh dari gubuk. Pria berstatus lajang ini mengaku kalau malam hari nyamuknya juga banyak mengingat area merupakan hutan. Di sekitar gubuknya itu terlihat banyak pohon cokelat, rambutan ataupun duku.

"Saya disini sekalian lihat-lihat kebun bapak Ridwan lah. Kalau Kepala Dusun dan Kepala Desa ya tau saya tinggal dengan kondisi ini. Apalagi Kades memang sering dia ke area kavlingan dekat sini tapi ya gitu lah. Saya pun ya tidak mau lah nyusahin. Kalau KTP ataupun KK ya saya punya," kata Husni.

Sudah dua bulan ini Husni mengaku tidak lagi mendapat bantuan beras dari Pemerintah. Ia tidak tahu mengapa ini bisa terjadi. Untuk persoalan makan ia mengaku paling banyak makan dua kali dalam sehari.

(dra/tribun-medan.com)

Penulis: Indra Gunawan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved