Advertorial

Bidan Dini Sri Andayani, Siaga Melayani 24 Jam

Menjadi seorang bidan tentunya harus memiliki kesadaran sejak awal, bahwa pekerjaan ini memang tidak mengenal waktu.

Bidan Dini Sri Andayani, Siaga Melayani 24 Jam
TRIBUN MEDAN/HO
Bidan Dini Sri Andayani, Amd. Keb sedang melayani pasiennya 

MEDAN.TRIBUNNEWS.com - Menjadi seorang bidan tentunya harus memiliki kesadaran sejak awal, bahwa pekerjaan ini memang tidak mengenal waktu. Begitu pula halnya Dini Sri Andayani, Amd. Keb. Kapan saja dibutuhkan, Dini, sapaannya, siap untuk melayani, kapanpun, di manapun. Bahkan di saat ia sedang tertidur lelap dimalam hari.

“Yang namanya bidan, harus siap didatangi pasien jam berapapun. Tengah malam, bahkan dini hari, harus tetap siaga. Yang seperti ini bagi kita sudah biasa, karena memang sering kita alami,” kata Dini saat diwawancarai di kediamannya di kawasan jalan lintas Lubukpakam-Pantailabu, Deliserdang, Sumut, Sabtu, 26 Januari 2019.

Dini merupakan satu di antara bidan desa yang bertugas di Desa Sekip, Kecamatan Lubukpakam. Dia sudah tertarik dengan bidan kesehatan sejak kecil. Ibunya juga merupakan bidan. Namun saat itu, bukan bidan yang jadi cita-citanya sebagaimana umumnya anak-anak kecil, Dini berkeinginan menjadi dokter.

Didorong sang Ibu, selepas SMP dia melanjutkan ke sekolah perawat kesehatan (setingkat SMA). Dari sini, dia melanjutkan ke Akademi Keperawatan Depkes Pijorkoling, Padangsidempuan. Lalu setelah menikah, Dini sempat berpindah-pindah kota hingga akhirnya menetap di Deliserdang bersama sang suami. “Terakhir suami saya dipindahkan ke Deliserdang, sejak itulah saya mulai membuka praktik ditahun 2007,” papar Dini.

Ditanya suka dan dukanya selama menjadi bidan di Deliserdang, Dini mengaku tidak dapat memaparkan satu per satu karena sudah begitu banyak kenangan, manis dan pahit, yang ia alami dan rasakan. Namun satu hal yang tetap berkesan bagi dia adalah saat membantu proses kelahiran. Tatkala ibu yang ia tangani dapat menjalani proses persalinan dengan mulus dan sehat, demikian pula bayi yang dilahirkannya dalam kondisi sehat, selalu menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. Kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan apapun.

Dini bercerita perihal pengalamannya menangani persalinan pasiennya di Pancurbatu. Walau masih berada dalam satu kabupaten, Pancurbatu dan Lubukpakam terpisahkan oleh jarak yang lumayan jauh, kurang lebih dua jam berkendara. Untuk mencapai Pancurbatu harus melewati jalanan Kota Medan yang sesak terlebih dahulu.

“Ibu ini sudah lama jadi pasien saya. Ia sebelumnya berdomisili di Lubukpakam, kemudian pindah. Waktu dia mau melahirkan, mungkin karena merasa cocok, dia tetap mau di- tangani oleh saya. Bayangkan, malam-malam saya ditelepon, katanya dia enggak mau kalau bukan saya yang tangani. Akhirnya saya berangkat ke Pancurbatu. Alhamdulillah ibu dan bayinya selamat,” ucap Dini seraya menambahkan, sekarang ia tidak lagi menyambangi pasien ke rumah. Tiap pasien harus dibawa ke klinik. Kenapa?

“Kita berjaga-jaga dari kemungkinan terburuk. Misalnya, saat proses ibu bayi bisa mengalami sesak nafas, bayinya juga bisa tersedak. Di klinik, peralatannya lebih memadai dan lebih dekat ke rumah sakit apabila kondisinya darurat, karena peraturannya sekarang memang demikian,” katanya.

Disamping itu, Dini pun pernah menghadapi pasien dengan kondisi anaknya mengalami asfiksia ketika lahir. “Saat saya membantu persalinan, bayinya mengalami asfiksia yaitu tidak langsung menangis ketika lahir. Ini disebabkan karna proses kelahiran terlalu lama, sehingga bayi mengalami masalah dipernafasan. Biasanya saya langsung menghangatkan dengan menggunakan handuk yang sudah dibasahi air hangat. Sebagai bidan, dalam menghadapi hal seperti ini saya tidak boleh panik dan harus tetap tenang, sehingga sang ibu pun juga ikut tenang,” ujar Dini.

Bagaimana dengan dukanya? Dini tersenyum, lalu mengatakan bahwa sesungguhnya tidak ada duka yang benar-benar duka dalam pekerjaannya. Karena apa yang ia sangka sebagai duka, sekalipun tetap terselip kebahagiaan. Karena bisa membantu orang lain adalah bagian dari kebahagiaan itu sendiri.

Halaman
123
Editor: Ismail
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved