PLTA Batang Toru Dipastikan Ramah Lingkungan

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara dipastikan ramah lingkungan.

PLTA Batang Toru Dipastikan Ramah Lingkungan
TRIBUN MEDAN/HO
PT North Sumatera Hydro Energi (NSHE) datang sejumlah ahli yang telah melakukan penelitian terhadap keberlangsungan ekosistem di areal proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara dipastikan ramah lingkungan. 

Energi Listrik yang Penting untuk Sumut

MEDAN.TRIBUNNEWS.com, MEDAN - Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara dipastikan ramah lingkungan. Sebab, sebelum proyek ini dikerjakan North Sumatera Hydro Energi (NSHE), sejumlah ahli telah melakukan penelitian terhadap keberlangsungan ekosistem di areal proyek. Menurut Senior Advisor Lingkungan NSHE, Dr Agus Djoko Ismanto, nantinya PLTA Batang Toru akan berkonstribusi pada ketersediaan listrik Sumatera Utara.

"PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan yang ramah lingkungan memberikan tiga manfaat besar sekaligus dari sisi energi, ekonomi, dan lingkungan bagi masyarakat, Sumatera Utara, Indonesia, dan Dunia," kata Agus, Jumat (1/3/2019).

Agus mengatakan, PLTA Batang Toru mengurangi peran pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang memakai energi fosil pada saat beban puncak di Sumut. Bagi Indonesia, saat memakai sumber energi air, maka pemerintah bisa menghemat pengeluaran devisa hingga 400 juta dollar per tahun, karena tidak menggunakan bahan bakar fosil. Bagi dunia, PLTA Batang Toru yang merupakan pembangkit energi terbarukan berkontribusi besar mengurangi emisi karbon nasional.

"Yang penting, keberadaan PLTA Batang Toru ini untuk mencegah dan memerangi dampak perubahan iklim yang sedang menjadi ancaman dunia," kata Agus. Berdasarkan Hasil Kajian Pustaka Alam menunjukkan PLTA Batang Toru dapat mengurangi emisi gas rumah kaca mencapai 1,6-2,2 juta metrik ton CO2, atau empat persen target sektor energi Indonesia pada 2030.

Lokasi APL

Terkait lokasi proyek, PLTA Batang Toru berada di Areal Penggunaan Lain (APL). “Jadi, lokasi proyek bukan berada di hutan primer maupun hutan konservasi," kata Agus. Jika ada tudingan-tudingan yang menyebutkan PLTA Batang Toru merusak hutan primer, kata dia, itu tidak benar.

Menurutnya, jika dilihat dari jenis vegetasi yang tumbuh di lokasi areal proyek. tanaman yang mendominasi adalah pohon karet dan pohon perkebunan lainnya. Lahan PLTA yang berupa APL tersebut seluruhnya dibeli dari lahan masyarakat yang secara hukum telah diizinkan oleh negara untuk kepentingan non-kehutanan. Ini dapat buktikan dari sertifikat tanah yang telah dibeli pihak PLTA.

"Kami menyadari bahwa sumber utama pembangkit kami adalah air. Sehingga, kami tetap berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan. Dengan lestarinya lingkungan dan terawatnya kondisi alam, tentu pasokan air akan tetap terjaga," ungkap Agus.

Soal tudingan-tudingan menyangkut analisis dampak lingkungan (AMDAL), sambung Agus, PLTA Batang Toru telah melakukan serangkaian persiapan sebelum mengerjakan proyek. Kata Agus, PLTA Batang Toru mengadopsi dan menerapkan standar-standar nasional dan internasional.

Halaman
123
Editor: Ismail
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved