Tobasa Berusia 20 Tahun, Habornas Belum Menikmati, hingga Gubernur Tegur Bupati

Warga Tobasa yang berprofesi dokter dan bertugas di dataran tinggi Habornas, Tota Manurung bahkan mengkritik konotasi 'tertinggal'.

Tobasa Berusia 20 Tahun, Habornas Belum Menikmati, hingga Gubernur Tegur Bupati
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Warga mendorong mobilnya yang terjebak di badan jalan, lokasi Habornas Tobasa.

TRIBUN-MEDAN.COM, TOBASA - Sepanjang jalan di Habornas (Habinsaran, Borbor, Nassau) Kabupaten Tobasa masih belum beraspal, bebatuan bermunculan dan jalan kadang berlumpur.

Sejumlah warga tampak kesulitan melintas, karena mobilnya tampak terperosok di jalan berlubang, Senin (11/3/2019).

Padahal, seperti kata warga Alex Siagian, Tobasa sudah berusia 20 tahun pada 9 Maret lalu sejak resmi memisahkan diri dari Kabupaten Tapanuli Utara.

"Apa hadiah untuk Habornas pada HUT ke-20 Tobasa," ujar Alex sambil berdiri menunjuk kondisi badan jalan yang nyaris tak layak.

Alex mengaju kecewa dengan kondisi Habornas yang dinilainya ditinggalkan dari segi pembangunan, atau bukan berarti masyarakatnya 'tertinggal' dan terisolir seperti konotasi yang melekat.

Namun, pemerintah khususnya Pemkab Tibasa dianggap kurang peka, apalagi kabupaten ini malah sudah melahirkan 1 kabupaten baru ini, yakni Kabupaten Samosir.

Baru-baru ini Kabupaten Tobasa dirayakan meriah pada 9 Maret 2018 lalu. Bahkan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi turut hadir dalam perayaan hari jadi yang dikonsep seperti pesta rakyat itu.

Untuk kali pertama , perayaan hari jadi Kabupaten Tobasa digelar di 3 kecamatan dan berada di luar ibu kota kabupaten, tepatnya di wilayah Kecamatan Habinsaran, Kecamatan Borbor dan Kecamatan Nassau, atau yang akrab disebut Habornas. Perayaan yang digelar di tiga kecamatan ini menuai pro dan kontra, kenapa harus di Habornas.

Sebut Alex dari segi letak, 3 kecamatan ini memang terbilang cukup jauh dari Ibu Kota Kabupaten. Jaraknya bahkan mencapai 60 Kilometer dari Balige dengan kondisi jalan yang diselingi lubang dan tepi jurang. Bahkan nyaris sepanjang jalan dihiasi hutan perawan dan perbukitan yang terjal.

"Beberapa tahun terakhir, 3 kecamatan ini akrab sekali dengan sebutan pinggiran, bahkan tak sedikit yang menyebut jika desa di 3 kecamatan ini masih banyak yang terisolir",ungkap Alex.

Halaman
123
Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved