Tempurung Batok Kelapa Jadi Media Artistik Dian

tempurung kelapa mudanya saya ambil dari tempat jualan es kelapa muda, begitu, prosesnya memang agak lebih lama.

Tempurung Batok Kelapa Jadi Media Artistik Dian
TRIBUN MEDAN/Ryan Nur Harahap
Dian Pramono (40) menunjukkan hasil-hasil karya lukis dari tempurung kelapa. 

TRIBUN-MEDAN.com - Seni melukis tidak mempersoalkan dimana harus diaplikasikan. Biasanya, hasil karya artistik ini selalu ditampilkan di atas kertas, kanvas maupun dinding sebagai medianya.

Dian Pramono, menggunakan cara yang unik untuk merealisasi imajinasinya di atas sebuah tempurung kelapa yang masih muda.

''Sekarang mengarah ke temprurung muda, karena belum ada pembuangannya, sampahnya dan masih berserakan," ujar Dian.

Dienju Art yang berlokasi di jalan Klambir V, Kelurahan Tanjung Gusta, Kota Medan, menggunakan limbah yang dia dapatkan dari pedagang minuman.

Bahan yang sudah terkumpul kemudian di keringkan menggunakan sinar matahari. Tujuannya untuk menghilangkan kadar air di dalamnya, sehingga kelapa bisa diamplas permukaanya.

Setelah proses ini selesai, tempurung kelapa digambar dengan menggunakan pensil, cat air, dan juga pensil alis sebagai alat lukisnya. Dengan durasi satu minggu, ia bisa memproduksi 5 lukisan batok kelapa.

"Jadi, tempurung kelapa mudanya saya ambil dari tempat jualan es kelapa muda, begitu, prosesnya memang agak lebih lama, ya, karena kita keringkan lagi. Biar kadar airnya enggak ada di dalam, supaya diamplas bisa bagus. Baru kita lukis di tengah, karena warna tempurungnya itu putih kalau masih muda. " ucap Dian.

Dari hasil lukisannya ia bisa membuat gambar hewan hingga tokoh pahlawan nasional, seperti Presiden Soekarno, Jenderal Ahmad Yani, Pangeran Diponegoro, dll. Ia berencana ingin membuat lukisan batok kelapa dari 66 karakter yang berbeda kedepannya.

Karakter manusia, hewan, selama ini saya buat tokoh-tokoh pahlawan. Ir. Soekarno, Jenderal Soedirman, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Pattimura. Rencananya sih mau buat 66, ini sekarang baru sekitar 15,'' tuturnya.

Meski ia menghadapi sedikit hambatan seperti tingginya angka pesanan, kurangnya perajin yang bisa mengolah bahan untuk mejadi sebuah lukisan, menjadi halangan terbesar baginya. Sehingga Dian harus melakukan semuanya sendiri.

Halaman
12
Penulis: Ryan Nur Harahap
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved