Desy Ratnawaty Sagala Bangga Sabet Medali Emas Kejurda Wushu Sanda Sumut 2019, Tekad Main di PON

Setiap kejuaraan Wushu, Desy yang sedang menempuh kuliah di Medan ini tetap membawa nama Pengcab Karo.

Desy Ratnawaty Sagala Bangga Sabet Medali Emas Kejurda Wushu Sanda Sumut 2019, Tekad Main di PON
TRIBUN MEDAN/CHANDRA SIMARMATA
Desy Ratnawaty Sagala, peraih medali emas kelas 60 kg senior Putri di Kejurda Wushu Sanda Sumut 2019 dan medali emas Kejurnas wushu kategori yunior di Medan 2014. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Mengikuti jejak abang dan kakaknya menekuni olahraga wushu, membuat Desy Ratnawaty Sagala harus rela berlatih hingga ke luar daerah asalnya. Namun kini, pengorbanan tersebut telah meghasilkan buah yang manis dengan berhasil meraih sejumlah prestasi.

Desy menuturkan, dirinya yang berasal dari Saribudolok, Simalungun, awalnya bergabung dengan Pengcab Wushu tanah Karo di tahun 2013. Sejak mulai bergabung, dirinya pun giat berlatih untuk mengejar prestasi.

Lebih kurang 2 tahun berlatih, Hasilnya, di tahun 2014, Desy yang saat itu masih merupakan atlet muda mampu menorehkan prestasi dengan meraih medali emas Kejurnas wushu di Medan untuk kategori junior.

"Karena dari Abang yang paling besar sudah ikut pengcab Wushu di Karo juga. Latihan besarnya di sana, terus menular ke kakak kemudian saya dari 2013," ujarnya, Kamis (14/3/2019).

Saat ini, meski tidak lagi harus berlatih di Pengcab tanah Karo, namun dalam setiap kejuaraan Wushu, Desy yang sedang menempuh kuliah di Medan ini tetap membawa nama Pengcab Karo. Pada kejuaraan daerah (Kejurda) Wushu sanda 2019 baru-baru ini Desy pun kembali menyumbangkan medali emas bagi Pengcab Wushu tanah Karo di kelas 60 kg senior Putri.

"Dapat medali emas (Kejurda 2019 Minggu kemarin), finalnya lawan atlet Pengcab Medan Ardianti Rizki Putri. Pertandingan Wah seru, awalnya kan karena di Medan sama latihan, jadi lumayan berat lah, karena tau kan dia bagus, anak silat juga," ungkapnya.

Atas prestasi yang diraihnya itu, atlet muda Kelahiran 1997 ini mengaku bangga. Prestasi itu pun dipersembahkannya tak hanya untuk Pengcab Wushu tanah Karo dan juga keluarganya.

"Perasaannya bangga juga Bersyukur pada Tuhan. Sama orang-orang juga yang sudah mendoain. Semoga juga almarhum Mama bahagia melihat prestasi ini," kata Mahasiswi Fakultas Ilmu keolahragaan jurusan PJKR UNIMED stambuk 2017 ini.

Lebih lanjut kata Desy, selama mempersiapkan diri jelang Kejurda wushu 2019 tersebut, dirinya telah meningkatkan latihan selama satu setengah bulan sebelum pertandingan. Selain melatih fisiknya, dirinya juga menjaga berat badan dan memperkuat mental bertanding dengan melakukan latih tanding.

"Sore latihan, pagi latihan. Berjuang banget, mati-matian. Strateginya cuma pukul, tendang, sama banting. Dan yang paling utama berserah pada Tuhan, berdoa," tuturnya.

Pascaberakhirnya Kejurda, kata Desy, dirinya akan segera kembali berlatih. Pasalnya kemungkinan masih akan ada seleksi di kelasnya bersama atlet pelatnas untuk bisa mengikuti ajang PraPON. Karena itu dia pun berharap agar bisa lolos mengikuti PraPON dan juga bisa meraih tiket menuju PON Papua tahun 2020.

"Harapannya ke depan bisa main di PON. Ke depan juga lebih sukses lagi. Tanah Karo juga lebih jaya lagi," pungkas atlet terbaik kelas junior, kategori putri (kelas 56 kg) Kejurda Wushu tahun 2014 itu.

(cr11/Tribun-medan.com)

Penulis: Chandra Simarmata
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved