Komunitas Coin a Change Gantungkan Pendidikan Anak Putus Sekolah kepada Masyarakat Penyumbang Koin

Hal tersebut menggerakkan Rizky Franchitika Kiky untuk memanfaatkan uang receh menjadi sesuatu yang berharga bagi banyak orang.

Komunitas Coin a Change Gantungkan Pendidikan Anak Putus Sekolah kepada Masyarakat Penyumbang Koin
Tribun Medan/ Gita Tarigan
Anggota Coin a Change Medan berkumpul dalam suatu agenda. Komunitas ini mengubah recehan menjadi hal berharga yang dapat mengubah nasib banyak orang. 

TRIBUN-MEDAN.com - Uang koin atau sering disebut receh, kerap kali disepelekan oleh banyak orang, tidak jarang juga koin ratusan dibuang begitu saja, karena dianggap kurang bernilai, berisik dan beberapa orang juga merasa malu apabila terlalu banyak menyimpan recehan di kantong atau dompetnya.

Hal tersebut menggerakkan Rizky Franchitika Kiky untuk memanfaatkan uang receh menjadi sesuatu yang berharga bagi banyak orang.

"Sebenarnya komunitas Coin a Change ini sudah ada di beberapa kota di Indonesia, awalnya itu di Jakarta, saya dulu kakak pendamping di CAC Yogya, lalu setelah selesau kuliah, saya rindu dengan kebiasaan mengumpulkan koin, saat kembali ke Medan kenapa tidak dibentuk saja di Medan," ujar Rizky, Jumat, (15/3/2019)

Perempuan yang berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Medan ini, menceritakan awal mula ia membentuk komunitas CAC di Medan.

"Saya kan dosen, jadi setelah selesai mata kuliah, saya minta waktu lima menit ke mahasiswa untuk memperkenalkan komunitas ini, kemudian kami memperbincangkan lebih serius, kemudian terbentuklah CAC ini di 22 Oktober 2015," ujarnya.

Live Streaming Undian Perempat Final Liga Champions, Peluang Derby Inggris hingga Laga Ala Tiki Tika

Jaksa KPK Sebut Bupati Non Aktif Remigo Berutu Segera Disidang 2 Pekan Mendatang di PN Medan

Aksi Unboxing Sepeda Motor Kembali Terjadi, Kali Ini di Halaman Kantor Polisi, TONTON VIDEO. .

Ia mengatakan bahwa CAC ini ada di bebetapa kota seperti Aceh, Bandung, Semarang, Padang, Pare dan lainnya.

"Kalau anggota atau relawan Medan berasal dari berbagai kalangan, ada mahasiswa, Dosen, Kontraktor, sejauh ini lebih banyak dari mahasiswa," ujarnya

Ia mengatakan alasan dibentuknya komunitas ini adalah ingin membantu pemerintah Kota Medan untuk membina anak-anak kurang mampu menempuh pendidikan.

"Meskipun dalam bentuk yang kecil, itu sangat berdampak pada orang-orang yang membutuhkan, karena banyaknya anak-anak yang putus sekolah, ia tidak punya biaya, kenapa nggak kita coba cara lain untuk menyekolahkan mereka, dengan receh itu sering dibuang orang, kenapa nggak kita galakkan sepertu di kota lainnya,"

Tampak Kecil dan Sempit, Interior Rumah di Tebet Ini Luar Biasa, Raih Penghargaan Internasional

Duet Maut Suharto AD dan Ansyari Lubis Tukangi Skuat Tim Sepakbola PON Sumut Menuju PON Papua 2020

Rumah Sakit USU Tambah Mesin Cuci Darah Khusus Anak serta Penderita Gagal Ginjal

Ia menjelaskan bahwa sistem CAC adalah beasiswa berkelanjutan. "Jadi ini sifatnya continue, berkelanjutan, tidak hanya sekali saja, Insyaallah adik asuh CAC akan terus kita sokong hingga mereka memasuki jenjang pendidikan yang tinggi, dan tentu saja yang terpilih menjadi adik asuh adalah anak yang berprestasi namun kurang mampu di segi ekonomi," ujarnya

Halaman
123
Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Joseph W Ginting
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved