Baintelkam Polri Kunjungi Pesantren Al-Hidayah, Mantan Napiter Ini Ceritakan soal Teror Sibolga

Aparat Keamanan negara harus mewaspadai adanya potensi aksi balas dendam yang dilakukan oleh siapa saja.

Baintelkam Polri Kunjungi Pesantren Al-Hidayah, Mantan Napiter Ini Ceritakan soal Teror Sibolga
TRIBUN MEDAN/SATIA
Ustaz Khairul Ghazali (kanan) bersama AKBP Suhaimi (kiri) menyerahkan bantuan mesin penetas telur ayam kampung, Pondok pesantren Al Hidayah, Sri Mencirim, Deliserdang, Sumatera Utara, Minggu (17/3/2019). 

TRIBUN MEDAN.COM, MEDAN - Mantan napi teroris (Napiter), Ustaz Khairul Ghazali, yang kini aktif mengurus Yayasan Pesantren AL Hidayah binaan Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) Mabes Polri, menyampaikan, saat ini situasi tidak dapat ditentukan, tetapi harus tetap waspada, dengan serangan radikal, Minggu (17/3/2019).

Aparat Keamanan negara harus mewaspadai adanya potensi aksi balas dendam yang dilakukan oleh siapa saja, yang tidak terima saudaranya sesama muslim dihabisi saat di Masjid. Apalagi setelah kejadian penembakan dua masjid di Chirstchurch, Selandia Baru saat salat Jumat (15/3).

Ustaz Ghazali yang di dampingi AKBP Suhaimy dari Baintelkam Mabes Polri mengatakan, pihak keamanan negara harus bekerja ekstra mendeteksi adanya rencana pelaku teror di Indonesia pascakejadian teror di Selandia Baru, yang menewaskan puluhan jamaah saat Shalat Jumat di Masjid Selandia Baru.

Menurut Ustad Ghazali pasti ada para mantan pelaku teror yang sudah insaf dan sudah kembali ke atas dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), naik lagi darah jihadnya saat melihat puluhan umat Islam dibunuh secara keji saat sedang di Masjid.

"Sedangkan teroris yang insaf saja marah, bagaimana lagi mereka mereka yang aktif. Tentu hal ini harus diwaspadai bersama karena besar peluang terjadinya potensi aksi balas dendam," tandasnya.

Ia menjelaskan bagi para mantan teroris yang sudah insaf saat ini, sangat mudah sekali untuk gabung kembali ke kelompok sel-sel teroris yang baru ini.

"Ya kalau mau masuk lagi, ibarat seperti menggelinding saja, langsung masuk, karena punya bahasa yang sama, tujuan yang sama dan pemikiran yang sama. Malah kalau mantan teroris yang gabung kembali, itu maqom nya lebih tinggi lagi, dan pasti akan di dengar cakapnya," tandasnya.

Kelompok teroris yang ada saat ini di Indonesia, kata dia, adalah bagian baru sudah berafiliasi ke ISIS lalu bermarkas di Suriah, termasuk kejadian di Sibolga kemarin.

"menjadi teroris itu tidaklah mudah, butuh tahapan yang panjang. Mulai dari proses rekrutmen, halaqah atau semacam kelompok kecil yang isinya tidak lebih dari 10 orang. Dan di halaqah itulah langsung di cuci otak. Lalu Bai'at, janji setia untuk mati fisabililah jihad. Lalu amaliyah seperti bunuh polisi, rampok bank, bom bunuh diri dan lain sebagaianya. Jadi bukan belajar dari google, langsung lakukan teror," kata dia.

Pada saat kejadian di Sibolga, Ustad Ghazali mengaku intens berkomunikasi dengan Kepala BNPT terkait bagaimana membujuk agar si istri Abu Hamzah tidak sampai meledakkan diri.

Halaman
123
Penulis: Satia
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved