Panen Bawang Merah Lebih Melimpah Dengan Benih

Tentunya komoditas ini menjadi kebutuhan masyarakat. Hal ini membuat bawang merah bisa dijadikan pilihan untuk dibudidayakan.

Panen Bawang Merah Lebih Melimpah Dengan Benih
TRIBUN MEDAN/SEPTRIANA AYU SIMANJORANG
Temu Tani yang dilakukan di Pasar 1 Marelan, Medan Marelan, Kamis (21/3/2019) 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Bawang merah menjadi satu bumbu yang sering hadir di menu makanan nusantara.

Tentunya komoditas ini menjadi kebutuhan masyarakat. Hal ini membuat bawang merah bisa dijadikan pilihan untuk dibudidayakan.

Umumnya bawang merah diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan umbi sebagai benih. Namun benih berbentuk umbi ini biasanya dipatok dengan harga yang cukup mahal. Untuk itu saat ini penggunaan biji botani atau True Shallot Seed (TSS) hadir untuk mengatasi perbenihan bawang merah di Indonesia.

"Awalnya TSS ini sudah ada tetapi varietasnya Tuk Tuk, namun karena perawatannya agak rumit sedikit, petani kan mencari yang mudah jadi beralih ke umbi. Saat ini karena ada varietas baru, petani kembali menanam TSS," ujar Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Medan, Ruqiah Iriani dalam Temu Tani yang dilakukan di Pasar 1 Marelan, Medan Marelan, Kamis (21/3/2019).

Varietas baru TSS yang dimaksud adalah Lokananta dan Sanren. Petani kembali tertarik menanam karena dengan benih TSS biaya operasional jadi lebih murah dan produksi tetap tinggi. "Kami juga dari pertanian mengharapkan supaya petani menanam TSS," ujarnya.

Kata Ruqiah dengan TSS ini, bisa memangkas biaya produksi. Jika bawang merah dibudidayakan dengan umbi, dalam satu hektare tanah membutuhkan biaya Rp 60 Juta sedangkan dengan benih TSS hanya Rp 11 Juta.

"Ini artinya petani bisa menghemat Rp 49 Juta. Kebutuhan benih berbentuk umbi untuk satu hektare tanah adalah satu sampai 1,5 ton, dengan harga Rp 45 ribu perkilo. Tapi untuk TSS hanya membutuhkan 4 kilo perhektare dengan harga Rp 3.600.000 perkilo,"

Keunggulan lainnya, jumlah produksi bawang merah dengan benih TSS bisa lebih tinggi dari bawang merah biasanya. Bawang merah yang di hasilkan dari benih TSS pun sama dengan bawang merah dari umbi, begitupun harga jualnya.

Keunggulan lain dari penggunaan benih TSS ini kata Marketing Representative PT East West Seed Indonesia, Ardiyansyah Irba tanaman bawang merah yang dibudidayakan dari umbi kadang membawa nematoda, tapi kalau disemai, tidak ada penyakit yang dibawa sehingga perawatan lebih mudah.

"Selain itu dengan menggunkan TSS biaya produksi lebih sedikit tetapi hasil produksinya dalam satu hektare bawang merah basahnya kurang lebih 35 ton per hektare, sesudah kering antara 20 sampai 23 ton perhektare. Sementara dengan umbi maksimum kita bisa dapat 9 ton. Jadi produksinya kita dapat dua kali lipat, biaya produksinya hanya setengahnya," ujarnya.

"Karena bawang merah TSS ini harus disemaikan terlebih dahulu, waktu panen TSS lebih lama bisa 100 hari lebih. Sedangkan bawang merah dari umbi bisa dipanen hanya dalam waktu 60 sampai 65 hari. Hal ini karena umbi langsung ditanam tanpa perlu disemaikan lagi," kata Ruqiah.

(cr18/tribun-medan.com)

Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved