Sering Terjadi Kekeliruan, Komunitas Ini Kembalikan Tortor ke Pola Dasar lewat Festival

Komunitas 'Sahuta Satahi' merasa bertanggung jawab menggali lebih dalam, hingga mewariskan tortor serta makna sebenarnya kepada generasi muda.

Sering Terjadi Kekeliruan, Komunitas Ini Kembalikan Tortor ke Pola Dasar lewat Festival
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Sanur Sinaga, panitia penyelenggara Festival Tortor Batak Toba memberi pengarahan pada ertemuan dengan perwakilan pegiat Sanggar seni se-Kawasan Danau Toba di Parapat, Minggu (24/3/2019). Dalam waktu dekat Komunitas Sahuta Satahi akan menggelar festival Tortor Batak Toba di Open Stage Parapat. 

TRIBUN-MEDAN.COM, PARAPAT- "Anak muda sekarang sudah banyak yang tidak tahu makna tortor Batak asli. Pada perhelatan-perhelatan adat, tortor malah dibawakan seperti dansa," ujar Sanur Sinaga, Panitia Festival Tortor Batak Toba pada pertemuan dengan perwakilan pegiat Sanggar seni se-Kawasan Danau Toba di Parapat, Minggu (24/3/2019).

Dalam waktu dekat Komunitas Sahuta Satahi akan menggelar Festival Tortor Batak Toba di Open Stage Parapat.

Kata Sanur, Komunitas 'Sahuta Satahi' merasa bertanggung jawab menggali lebih dalam, hingga mewariskan tortor serta makna sebenarnya kepada generasi muda. Sebagaimana, makna tortor dan gerakannya kini semakin sirna meski setiap saat bisa ditemui ada perhelatan-perhelatan adat.

Karenanya, Komunitas Sahuta Satahi menggelar Totor Festival Tortor Batak Toba se-Kawasan Danau Toba. Setalah dibuka pendaftaran sejak 10 February-25 Maret 2018 lalu ada sekitar 30 lebih sanggar seni yang siap bertanding. Lalu, 20 April semi final dan final pada 02-03 April 2019 di Open Stage (Pagoda) Parapat. Festival tersbut juga nantinya akan diramaikan artis ibukota dan juga band lokal.

Berbincang dengan Tribun Medan, Sanur yang sejak lama meneliti tentang tortor ini mengakui, bahwa tortor saat ini bukan saja kehilangan makna pada generasi muda. Termasuk kalangan orang tua, ada juga yang malah keliru dan tak lagi dapat memaknai apa yang ditortorkan dalam perhelatan adat yang semestinya bernilai.

Bahkan, menurut Sanur pemakaian ulos, baik sampai ke sesi manortor banyak yang tidak sesuai. Pemakaian ulos tidak lagi dipergnakan sebagaimana mestinya fungsi ulos itu sendiri. Apalagi, kaum lelaki pun terkadang memakai ulos yang semestinya dipakai perempuan seperti halnya “ulos sadum” malah dipakai kaum lelaki. Kemudian ulos yang kadang dipakai terbalik, padahal semua memiliki arti.

“Penampilan busana yang dipergunakan adalah sebagaimana mestinya harsus sesuai fungsi ulos itu sendiri. Apa yang tepat dipakai perempuan dan apa yang tepat dipakai laki-laki yang harus dipakai. Jangan laki-laki memakai ulos perempuan atau sebaliknya,” ujar Sanur Alumni S-2 yang menyelesaikan Tesis pengkajian seni tersebut.

Dengan adanya festival tortor, dia berharap agar kaum muda Batak tetap menjadi “Batak yang ‘kemarin’ dan hadir pada era saat ini”. Juga terhindar dari pengaruh asing yang lama-lama menggerus tortor Batak yang sebagaimana mestinya. Apalagi, banyak pegiat saat ini yang malah membuat keliru dengan mengatasnamakan kreasi, namun tanpa memikirkan nilai-nilai estetika pada tortor itu sendiri.

“Suoaya terhindar dari pengaruh asing. Pola dasar gera tortor yang kita jelaskan. Penari kreasi bukan tortor leluhur. Lalu, kenapa harus beda-beda lagi, jadi kita mau mengambil jalan yang benar”sebut Putri asli Pulau Samosir, tepatnya Desa Urat tersebut.

Sesuai penelitian yang dilakukan Sanur, saat ini gerakan tortor Batak Toba malah ada yang terpengaruh dari yang lain. Soalnya, Batak Toba memang dekat dengan Melayu, Simalungun dan lainnnya. Padahal, tortor tersbut sperti contoh kecilnya semestinya sama seperti pemaknaan dalam bahasa dan praktiknya “Appe di Abara” artinya kedua tangan harus berada di atas kedua sisi pundak. Bila tidak sesuai, tentu pemaknaanya pun sudah tidak benar.

Karenanya, dalam sesi tecnical meeting tersebut, Sanur meminta kepada para peserta atau pegiat sanggar seni yang ikut agar mempersiapkan diri secara matang. Dia meminta agar pemaknaaan tortor harus dikaji secara akademisi, sebab tortor bukan sekadar tari. Tortor kan memikiki filosofi kehidupan.

Hingga gerak tubuh dia sampaikan harus mengikuti irama Gondang dan tak kehilangan pilosofy. Penampilan secara busana yang dipergunakan juga harus memakai pakaian yang lazim terlebih untuk seorang ‘raja parhata’ (pemimpin dalam rangkaian tortor dimaksud).

(jun/tribun-medan.com)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved