Populasi Monyet Liar di Desa Bahung Sibatubatu Bertambah, Tanaman Dirusak dan Anak Ayam Bermatian

hewan yang hidup di kawasan perkebunan dan permukiman warga itu mulai mengganggu.

Populasi Monyet Liar di Desa Bahung Sibatubatu Bertambah, Tanaman Dirusak dan Anak Ayam Bermatian
TRIBUN MEDAN/MUSTAQIM INDRA JAYA
Seorang warga Dusun II, Desa Bahung Sibatubatu, Kecamatan Sei Dadap, AsaganTarmin, memperlihatkan seekor monyet, Jumat (29/3/2019) yang ditinggal induknya dipekarangan rumahnya beberapa waktu lalu. Keberadaan kawanan monyet liar kini mulai meresahkan masyarakat. 

TRIBUN-MEDAN.com, KISARAN - Jumlah populasi monyet liar yang hidup di kawasan Dusun II dan dusun lainnya di Desa Bahung Sibatubatu, Desa Sei Dadap, Kabupaten Asahan, semakin tahun terus bertambah.

Akibatnya, hewan yang hidup di kawasan perkebunan dan permukiman warga itu mulai mengganggu.

Seperti yang disampaikan Ahmad Zulkarnain. Keberadaan kawanan monyet di kampung mereka terus bertambah. Ditambah lagi, kawanan monyet itu terdiri dari berbagai kelompok.

"Populasinya sekarang bertambah. Apalagi kan mereka hidup tidak satu kelompok saja, sudah beberapa kelompok, nggak di dusun ini saja. Cuma jenisnya sama, kalau kami bilang kayak kera, monyet putih gitu," kata Zulkarnain, Jumat (29/3/2019).

Demikian juga disebutkan, warga Dusun II lainnya bernama Tohir. Kehadiran monyet liar di permukiman warga mulai meresahkan, selain merusak tanaman, juga mulai membunuh ternak ayam milik warga.

"Disini memang tempat monyet. Memang banyak monyet yang hidup disini. Tapi belakangan sudah mulai masuk ke dapur-dapur rumah, diam-diam ambil makanan, kayak pisang, telur. Anak-anak kecil yang dirumah jadi terkejut, ketakutan. Orang tua jadi takut ninggalin sendiri anaknya di rumah," sebut Tohir.

Hal senada disampaikan Tarmin. Pria paruh baya itu mengaku sudah sulit menikmati tanaman yang mereka tanam dipekarangan rumah. Sebab, begitu berbuah, maka akan langsung didatangi oleh kawanan monyet liar

"Saya sudah 30 tahun tinggal disini. Memang kondisinya sudah ada monyet dan kebun sawit. Tapi belakangan makin meresahkan, telur ayam dimakan. Rambutan habis, jambu juga. Kelapa-kelapa habis. Sampai sekarang sudah lama nggak makan rambutan. Nanam ubi, batangnya dicabuti sama monyet-monyet itu," akunya.

Menurut Tarmin, kemunculan monyet-monyet di kampung mereka tidak menentu. Namun, umunya selalu kelihatan pada pagi atau sore hari.

"Biasa tiga hari sekali, nggak tentu juga. Kadang pagi, kadang sore," ungkapnya.

Sementara, Kepala Desa Bahung Sibatubatu, Hasan Basri Sinurat menyatakan kawanan monyet yang hidup berdampingan dengan masyarakat itu, belum ada yang melukai warga.

Hanya saja, kawanan monyet ini sudah menjadi hama, karena merusak tanaman milik warga.

"Kami sudah melakukan pengusiran, tapi namanya hewan ya kembali lagi. Kalau diburu dilarang, itu makin membuat warga jadi bingung. Jadi beberapa hari lalu saya sudah datangi Polsek Air Batu dan pihak perkebunan supaya ada solusi. Ini lah masih menunggu apa yanc harus dilakukan," ujarnya.

(ind/tribun-medan.com)

Penulis: Mustaqim Indra Jaya
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved