Dokter Aznan Lelo tak Pernah Pasang Tarif: Profesi Hakiki Dokter adalah Membantu Orang Sakit

Dokter Farmakologi ini juga tidak mempermasalahkan jika ada pasien yang datang dan kemudian tidak mampu membayarnya.

Dokter Aznan Lelo tak Pernah Pasang Tarif: Profesi Hakiki Dokter adalah Membantu Orang Sakit
Dok.Wajib Baca.com
Dr Aznan Lelo, dokter di Medan yang tak mematok tarif bagi pasiennya. 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN- Bagi Dr. Aznan Lelo profesi hakiki sebagai seorang dokter adalah membantu orang-orang yang sedang sakit.

Hal tersebut juga yang kemudian membuat pria kelahiran 2 Desember 1951 ini tidak pernah menentukan atau meminta tarif pada pasien yang datang untuk berobat ke tempat praktiknya di Jalan Puri Medan.

“Saya tidak pernah meminta tarif kepada pasien ketika mereka datang untuk berobat. Namun juga mereka memberi maka akan saya terima namun yang menerima bukan saya melainkan istri,” ujar pria yang akrab disapa Buya tersebut.

Bahkan, Dokter Farmakologi ini juga tidak mempermasalahkan jika ada pasien yang datang dan kemudian tidak mampu membayarnya.

“Karena bagi saya profesi hakiki seorang dokter adalah membantu orang yang sakit. Jika saya menggunakan profesi dokter ini untuk menjadi kaya, pastilah saya sudah kaya. Tapi saya tidak mau,” tutur Guru Besar Fakultas Kedokteran USU tersebut.

Baginya, orang miskin lebih menghargai profesi dokter dibandingkan dengan orang kaya dan hal tersebut yang juga membuatnya senang menjalani profesi sebagai seorang dokter hingga saat ini.

“Saya buka praktik ini dari tahun 1978 dan saat itu masih berada di rumah orang tua saya, belum di sini di Jalan Puri ini. Dan saat itu praktik saya sempat berhenti karena saya harus mengambi gelar Ph.D di Australia,” jelasnya.

Saat kembali ke Indonesia tahun 1987, awalnya ia tidak ingin membuka praktik lagi. Namun beberapa pasien yang dulu pernah berobat kepadanya kembali datang dan berharap agar kembali membuka praktik.

“Banyak pasien yang dulu pernah berobat meminta saya membuka kembali praktik dan kemudian dengan tujuan untuk membantu orang-orang akhirnya saya kembali membuka praktik,” terangnya.

Ia mengungkapkan, sebenarnya dokter bukanlah cita-cita yang ia inginkan. Saat masih anak-anak, ia malah mendambakan menjadi sarjana nuklir.

“Waktu dulu saya paling senang dengan pelajaran Matematika dan kemudian saya mendambakan menjadi seorang sarjana nuklir tapi abang saya bilang ngapai jadi sarjana nuklir, jadi dokter saja lebih bagus,” ungkapnya.

(pra/tribun-medan.com)

Penulis: Ayu Prasandi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved