102 Lukisan dan Kaligrafi Dipamerkan, Seni yang Harus Dijaga dan Dilestarikan

Banyak orang mempercayai budaya pepatah Tionghoa yang mengatakan kata-kata mewakili karakter seseorang dan buku mewakili gambaran hati.

102 Lukisan dan Kaligrafi Dipamerkan, Seni yang Harus Dijaga dan Dilestarikan
Tribun-Medan / Nanda Rizka Nasution
Pengunjung saat melihat Pameran Lukisan dan Kaligrafi di Perguruan Buddhis Bodhicitta Jalan Selam No 39-41, Kota Medan, Sabtu (6/4/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Seni kaligrafi mengandung esensi budaya tradisional Tionghoa yang mewujudkan karakteristik dasar seni Tionghoa dan mengandung nilai estetika budaya Tionghoa

Pada saat ini, banyak orang mempercayai budaya pepatah Tionghoa yang mengatakan kata-kata mewakili karakter seseorang dan buku mewakili gambaran hati.

Hal tersebut diungkap oleh Master of Ceremony dalam pembukaan yang memamerkan sebanyak 102 Lukisan karya Xu Qingzai dalam Pameran Lukisan dan Kaligrafi di Perguruan Buddhis Bodhicitta Jalan Selam No 39-41, Kota Medan, Sabtu (6/4/2019).

Bertemakan Merawat Warisan Seni dalam Bingkasi Lukisan dan Kaligrafi, kegiatan terselenggara atas keprihatinan melihat seni dan budaya hampir ditinggalkan.

"Maksud tujuannya, kita tahu bahwa zaman sudah modern. Hampir semua milenial sibuk dengan gadgetnya. Hal yang berbau seni dan budaya hampir semua ditinggalkan," ungkap Ketua Panitia Ir Sutopo di Aula Perguruan Buddhis Bodhicitta.

Seni, katanya, bagaimanapun, tetap mengikuti zaman. Karakter seni, rohnya tetap seni dan karakter budaya tetap budaya dan kita tidak menghilangakan begitu saja.

"Dari rasa keprihatinan, lukisan ini sebagai seni lintas etnik, bahasa, agama. Inilah seni yang sudah beribu-ribu tahun lalu sebagai pewaris budaya kemanusiaan," tambahnya.

Seni harus dijaga bersama agar terus dilestarikan, tambahnya. Semua seni tentunya mengandung nilai lihur yang didalamnya sebagai filosofi hidup.

"Terkadang, kita melihat antara salah dan benar bagaikan setipis kertas. Hitam dan putih tidak bisa kita bedakan lagi. Budaya menipis, terkadang, orang yang patut dihormati malah dicaci maki," tuturnya.

Kalau anak cucu kita terus setiap hari berkutat pada gawai, budaya saling menghormati umat manusia akan hilang. Budaya kesantunan kita yang bergotong-rotong dan rukun, sekarang, kerukunan kita agak terganggu.

Halaman
12
Penulis: Nanda Rizka Nasution
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved