Advertorial

Menggunting Kemiskinan Melalui Pendidikan Bersama Sofyan Tan

'Dendam' sering diartikan negatif. Padahal tidak semua 'dendam' mengandung hal-hal negatif. Ada 'dendam' yang sifatnya positif seperti 'dendam

Menggunting Kemiskinan Melalui Pendidikan Bersama Sofyan Tan
TRIBUN MEDAN/HO
dr Sofyan Tan 

MEDAN.TRIBUNNEWS.com, MEDAN - 'Dendam' sering diartikan negatif. Padahal tidak semua 'dendam' mengandung hal-hal negatif. Ada 'dendam' yang sifatnya positif seperti 'dendam' seorang dr Sofyan Tan terhadap kemiskinan. Dendam bagi seorang Sofyan Tan merupakan sebuah motivasi bagaimana mengalahkan atau mengenyahkan kemiskinan dari kehidupan. Baik itu dari kehidupan diri sendiri, keluarga, masyarakat sekitarnya maupun dari kehidupan bangsa dan negara ini!.

Yang pasti, hidup dalam kondisi serba kekurangan tidak nyaman. Sofyan Tan sudah merasakan hal itu karena lahir di tengah-tengah keluarga yang hidupnya jauh dari mencukupi. Sofyan Tan tumbuh di kawasan pinggiran Kota Medan, tepatnya di Sunggal.

Mengalahkan 'kemiskinan' bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Diperlukan 'senjata ampuh' yang mampu mengalahkannya. 'Senjata ampuh' itu bernama 'pendidikan'. Sofyan Tan sadar salah satu cara yang ampuh dan mujarab melawan kemiskinan adalah pendidikan.

la sudah mempergunakan 'senjata' ini untuk mengenyahkan kemiskinan dari diri sendiri dan keluarganya. Di tengah kehidupan yang serba kekurangan.

Namun Sofyan Tan tidak ingin sukses sendiri. la ingin membawa keluarga miskin di sekitarnya, berhasil seperti dirinya. Sayangnya, tidak semua orang bisa mengakses pendidikan. Pendidikan di negeri ini masih tergolong 'mahal' bagi kalangan tidak mampu.

Atas dasar ini, maka didirikanlah Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM). YPSIM didirikan untuk membantu masyarakat tidak mampu khususnya yang berada di kawasan Sunggal. Digagaslah pemberian beasiswa dengan pola 'orangtua asuh'. Pihak sekolah mencari donatur yang mau menjadi orangtua asuh bagi anak tidak mampu. Pola ini menjadi lebih unik karena diperlakukan sistem silang. Donatur dari agama atau etnis tertentu menjadi orangtua asuh bagi siswa yang berbeda agama dan etnis dengannya.

Mulai dari 17 orang pada 1988 hingga kini pada 2019 sebanyak 4018 anak asuh bisa dibantu dan tidak sedikit yang melanjutkan pendidikannya di universitas negeri ternama baik di provinsi ini maupun di Pulau Jawa.

Sudah puaskah Sofyan Tan dengan pencapaian ini?

Jawabannya, tidak!

Dr. Sofyan Tan menginginkan warga miskin yang bisa mengakses pendidikan tidak hanya dari kawasan Sunggal dan sekitarnya saja. Sofyan Tan ingin agar warga Medan, bahkan Sumatera Utara bisa merasakan hal yang sama.

Halaman
12
Editor: Ismail
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved