Yusroh Divonis 9 Bulan karena Tulis Copot Kapolda di Grup WhatsApp, Ini Respons KORAK Sumut

putusan terhadap Yusron yang merupakan pekerja media sebagai dentuman keras bagi kebebasan berekspresi dan berpendapat.

Yusroh Divonis 9 Bulan karena Tulis Copot Kapolda di Grup WhatsApp, Ini Respons KORAK Sumut
TRIBUN MEDAN/MUSTAQIM INDRA JAYA
Muhammad Yusroh Hasibuan, terdakwa pencemaran nama baik Kapolda Sumut mendengarkan nota vonis yang dibacakan majelis hakim di ruang Utama Pengadilan Negeri (PN) Kisaran, Kamis (11/4/2019). Yusroh oleh majelia hakim divonis dengan hukuman sembilan bulan penjara. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tim Hukum Koalisi Rakyat Anti Kriminalisasi (KORAK) kecewa dengan putusan yang diberikan kepada Yusroh Hasibuan yang divonis 9 bulan penjara di Pengadilan Negeri (PN) Kisaran, kemarin, Kamis (12/4/2019).

KORAK Sumut menilai bahwa putusan terhadap Yusron yang merupakan pekerja media sebagai dentuman keras bagi kebebasan berekspresi dan berpendapat di Negeri yang menganut Demokrasi ini.

Seperti diketahui, Yusron divonis bersalah oleh Majelis Hakim yang diketuai oleh Ulina Marbun dengan pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat (3) UU No 19 tahun 2016 perubahan atas UU RI No 11 tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Hal ini akibat pesan yang dikirimnya di grup Whatsapp Berita Batubara Online yang bertuliskan "Siantar Simalungun, GMNI, GMKI, HMI, Himmah, BEM dan lain lain. Mengutuk tindakan represif oknum Polri. Copot Kapoldasu,".

Koordinator KORAK Sumut, menyebutkan bahwa dengan divonisnya Yusroh membuka celah untuk para petinggi untuk bisa mengkriminalisasi pekerja media.

"Ini menjadi preseden negatif kedepan untuk memperjuangkan demokrasi. Jadi ada stigma bahwa semudah itu bisa bisa mempidanakan pekerja media yang notabene bekerja untuk pemberi informasi dan merasa disinggung. Diakan wartawan artinya bisa memberikan informasi, Ya hari ini Yusroh ya berikutnya siapa lagi," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa ketakutan berikutnya bahwa akan ada Yusroh-Yusroh baru yang akan segera dipidana hanya karena merasa namanya tercemar.

"Inikan seperti ada upaya terlalu memudahkan orang untuk diproses hukum. Makanya kasus ini bukan sebatas kepada Yusroh, tapi kedepan kita takutkan kawan-kawan wartawan lain juga akan diperlakukan seperti dan akan timbul Yusroh-Yusroh baru yang lain.

Maswan juga bahkan menyayangkan perubahan pendapat Hakim yang awalnya sempat menyebutkan bahwa apa yang dituliskan Yusroh adalah hal yang wajar.

"Kemarin juga di jalannya persidangan hakim anggota dalam kasus ini Miduk Sinaga malah menyebutkan bahwa tindakan pelaporan ini telah mengubur demokrasi. Bahkan Hakim Ketua Ulina Marbun menyebutkan bahwa kalimat ini sederhana dan nyambung. Tapi tidak tahu mengapa pada akhirnya Yusroh bisa tetap divonis," tuturnya.

Ia menegaskan bahwa pihaknya sudah mempersiapkan diri untuk segera mengajukan banding dalam perkara ini.

"Kita pasti banding kalau terdakwa juga mau. Pastinya kita akan konsultasi dulu melihat pertimbangan sosiologis terdakwa. Karena dia (Yusroh) juga sudah mau menikah dan tulang punggung keluarga," tegasnya.

Terakhir Maswan tetap menegaskan bahwa pihaknya tetap tidak sepakat dengan pidana yang diberikan kepada Yusroh karena faktanya dia hanya menjawab pertanyaan orang lain di grup Whatsapp.

"Terhadap putusan tersebut keberatan saya sampaikan di awal, Yusroh tidak melakukan tindak pidana, Yusroh sekedar berbagi informasi di grup. Juga yang sebagai bahan bantahan, menurut kita ini adalah murni delik aduan, artinya harus Kapoldanya langsung yang melakukan pelaporan kalau memang dia merasa dicemarkan bukan menugaskan orang lain," tutupnya.

(vic/tribunmedan.com)

Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved