Rumah Cerdas Cendekia, Peduli Pendidikan sekaligus Mencipta Lapangan Pekerjaan

"Ini nekat sebenarnya. Nekat membuka les, tetapi uangnya tidak ada. Saya mau keluar dari zona nyaman," kata Nina.

Rumah Cerdas Cendekia, Peduli Pendidikan sekaligus Mencipta Lapangan Pekerjaan
HO
Potret Rumah Cerdas Cendekia saat mengundang para anak yatim saat pembukaan bimbingan belajar beberapa hari lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com - Bedasarkan pengalamannya di dalam dunia pendidikan dan mengabdi ke desa terpencil dari 2017, bersama keempat temannya Nurlina Maharani mendirikan Rumah Cerdas Cendekia pada Januari 2019.

Nina, panggilan akrabnya mengaku nekat mendirikan sebuah bimbingan belajar untuk keluar dari zona nyaman.

"Ini nekat sebenarnya. Nekat membuka les, tetapi uangnya tidak ada. Saya mau keluar dari zona nyaman. Kalau netral-netral, kita tidak mendewasakan diri. Kalau ada masalah kita tidak tahu menyelesaikannya bagaimana. Masalah itu adalah teman. Semakin banyak gagal, semakin banyak suksesnya," katanya kepada Tribun Medan, Senin (15/4/2019).

Memiliki pengalaman mengajar di satu pusat bimbingan, perempuan yang masih menjadi mahasiwa semester 6 di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara ini awalnya membuka les gratis sebelum akhirnya mematok harga dengan harga yang relatif jauh lebih murah.

"Para pendiri semuanya berpengalaman di dunia pendidikan. Hanya saya yang masih kuliah," jelas Nina yang berkuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini.

Rumah Cerdas Cendekia (RCC) adalah satu di antara mimpinya. Ia bercita-cita mendirikan sebuah sekolah. Dan ini adalah awalnya. Rumah adalah tempat pembinaan karakter. Di mana anak-anak belajar dan berpikir. Rumah sebagai madrasah pertama mendidik karakter.

"Sekolah adalah tempat orang-orang cerdas. Nah, cendekia adalah orang-orang yang terpelajar yang pastinya cerdas. Jadilah namanya Rumah Cerdas Cendekia. Rumah orang cerdas juga berpendidikan," terangnya.

Ia mengatakan, selain peduli pendidikan, RCC dibangun karena ia ingin menciptakan lapangan kerja. Sebagai seorang mahasiswa, setelah lulus, tidak harus bekerja di sebuah instansi kepemerintahan. Ia ingin mengubah dan membangun perspektif kalau mahasiswa bisa membuka dan membangun kerjanya sendiri.

"Lesnya dari Senin hingga Jumat. Dari pagi sampai malam. Untuk siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) kita ada semua mata pelajaran. Kita mengikuti pelajaran sekolah. Ada masalah kita bantu. Ada tugas yang tidak paham, kita bantu," jelasnya.

Sementara itu, untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) ada dua mata pelajaran yaitu Matematika dan Bahasa Inggris.

Halaman
12
Penulis: Nanda Rizka Nasution
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved