Ramon Pasrah Ladang Kopinya Terdampak Banjir dan Material Longsor

banjir tersebut juga membawa material keras berupa bayangan kayu dan baru yang ukurannya cukup besar.

Ramon Pasrah Ladang Kopinya Terdampak Banjir dan Material Longsor
TRIBUN MEDAN/M NASRUL
Ramon Sembiring, menunjukkan ladang kopinya yang dihantam material batu dan kayu dari banjir yang melanda perladangannya, di Desa Semangat Gunung, Kecamatan Merdeka, Jumat (19/4/2019) 

TRIBUN-MEDAN.com, MERDEKA - Akibat hujan deras yang melanda sebagian wilayah di Kabupaten Karo, menyebabkan sebagian wilayah yang berada di kaki gunung Gunung Sibayak terpapar banjir, Kamis (18/9/2019) kemarin.

Menurut informasi, peristiwa itu terjadi akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut selama dua jam.

Selain air, banjir tersebut juga membawa material keras berupa bayangan kayu dan baru yang ukurannya cukup besar.

Diketahui, air yang bersumber dari kaki Gunung Sibayak itu berdampak ke rumah warga yang berada di Desa Doulu, Kecamatan Berastagi.

Tak hanya itu, banjir juga melanda sebagian lahan perladangan warga yang ada di Desa Semangat Gunung, Kecamatan Merdeka. Salah satu petani yang ladangnya terpapar banjir adalah Ramon Sembiring.

Saat ditemui di pondok miliknya, Ramon menyebutkan, dirinya mengetahui peristiwa tersebut dari anaknya yang lebih dulu datang ke ladangnya yang berada di perbukitan itu.

"Semalam kebetulan saya lagi di rumah, di Berastagi. Jadi tau ada banjir ini dari anak, pas dengar kabar banjir dia langsung ke sini," ujar Ramon, Jumat (19/4/2019).

Dirinya mengungkapkan, sekitar 1000 meter ladangnya yang terkena banjir dan longsor. Dari seluruh wilayah yang terkena dampak banjir, dirinya menyebutkan kondisi terparah ada di ladang kopinya yang berada di atas bukit.

Dikatakannya, akibat material baru dan kayu yang terbawa air dan mengendap di lokasi tersebut, kini kawasan tersebut sudah tidak bisa lagi ditanami.

"Yang parah itu di ladang kopi kita di atas, ada lah 30 batang yang roboh karena dihantam baru sama kayu yang besar-besar. Udah enggak bisa ditanami lagi lah, soalnya sudah penuh sama batu. Untungnya sudah panen," ungkapnya.

Tak hanya lahan pertanian, pondok yang dibangunnya untuk beristirahat saat di ladang juga terbawa arus air dan material yang menghantam gubuknya. Saat ditanya perasaannya melihat kondisi ladangnya yang porak poranda, dirinya mengaku pasrah.

"Ya kalau rugi sebenarnya pasti ada, tapi ya mau gimana lagi, kalau sudah dari alam gini siapa yang bisa kita salahkan," ucapnya.

Diketahui, peristiwa banjir di kawasan tersebut terjadi sekira pukul 15.00 WIB kemarin.

Diduga di kawasan hutan yang tak jauh dari Gunung Sibayak, juga terjadi longsor. Akibatnya, material berupa kayu dan batu ikut terbawa yang akhirnya menghantam perdagangan warga.

(cr4/tribun-medan.com)

Penulis: Muhammad Nasrul
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved