Psikolog Irna Minauli: Anak-anak Sekolah Multinasional Cenderung Lebih Paham Budaya Luar

Mereka kemudian cenderung meneruskan ambisi yang dimilikinya kepada anak-anaknya.

Psikolog Irna Minauli: Anak-anak Sekolah Multinasional Cenderung Lebih Paham Budaya Luar
Tribun Medan/Jefri Susetio
Psikolog, Irna Minauli 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Psikolog Irna Minauli mengatakan, dalam era globalisasi seperti saat ini, dipahami banyak orangtua beranggapan bahwa anak sudah harus disiapkan sejak dini.

Mereka kemudian cenderung meneruskan ambisi yang dimilikinya kepada anak-anaknya.

Dengan kecukupan finansial yang dimiliki, orangtua kemudian beranggapan semakin mahal pendidikan maka mutunya semakin besar baik.

"Memang dalam beberapa aspek, anak-anak di sekolah multinasional akan memiliki beberapa keunggulan terutama dalam keterampilan berbahasa asing serta pemahaman tentang budaya internasional lainnya," ujar Irna kepada Tribun Medan, Selasa (7/5/2019).

Akan tetapi, di situ pula yang kemudian menimbulkan masalah. Karena dikhawatirkan anak-anak akan lebih paham tentang budaya luar dibandingkan budaya lokal. Padahal ada banyak kearifan lokal yang seharusnya dimiliki seorang warga negara.

"Mungkin mereka yang bersekolah dengan pendidikan multinasional akan lebih sesuai untuk mereka yang berorientasi untuk bersekolah dan bekerja di luar negeri. Akan tetapi untuk mereka yang akan bekerja di dalam negeri, maka sebaiknya mereka tetap mempelajari adab lokal yang mungkin tidak didapat dalam sistem pendidikan di sekolah tersebut," jelasnya.

Irna mengatakan, kurikulum yang dirancang oleh sekolah berbasis multinasional juga akan menyulitkan ketika anak akan melanjutkan pendidikan di dalam negeri karena ada beberapa mata pelajaran yang tidak tercakup di dalamnya.

Pendidikan dengan model bilingual ketika diterapkan pada anak balita justru sering membingungkan. Dalam pandangan para ahli psikolinguistik, sebaiknya seorang anak telah menguasai bahasa induk dengan memilih banyak perbendaharaan minimal 10 ribu kata dan mampu menggunakan kalimat lengkap dengan menggunakan SPOK (Subjek, Predikat, Objek dan Keteranga).

Ketika anak belum menguasai bahasa ibu dengan baik, maka mereka akan mengalami kebingungan ketika harus mengucapkan kalimat secara baik dan benar.

"Mereka cenderung mencampuradukkan antara satu bahasa dengan bahasa lain. Misalnya mereka cenderung akan mengatakan Mama, I want to minum atau Saya mau drinking," katanya.

Kondisi kekacauan bahasa ini dapat mempengaruhi kemampuan emosi dan sosial anak. Irna mengatakan, anak-anak mungkin akan marah ketika orang lain tidak memahami apa yang diinginkan.

Secara sosial mereka juga akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain yang tidak menggunakan atau mengerti bahasa yang mereka ucapkan.

Akibatnya mereka cenderung hanya berinteraksi dengan teman sekolahnya saja karena teman di luar sekolah sering tidak memahami bahasa yang mereka sampaikan.

"Hal ini tentunya akan membatasi kemampuan sosialisasi mereka. Mereka cenderung berkembang menjadi anak dengan ekslusivitas yang tinggi selain karena secara sosial mereka memang lebih mampu dibandingkan dengan kebanyakan orang di sekitarnya," pungkasnya.

(cr5/tribunmedan.com)

Penulis: Liska Rahayu
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved