FOTO-FOTO Aktivitas Pesantren Al Hidayah yang Didirikan Mantan Terpidana Teroris di Deliserdang

Pondok Al-Hidayah, termasuk satu model pondok pesantren yang terbilang unik di daerah Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

FOTO-FOTO Aktivitas Pesantren Al Hidayah yang Didirikan Mantan Terpidana Teroris di Deliserdang - aktivitas-pesantren-mantan-terpidana-teroris.jpg
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Sejumlah santri Pesantren Al Hidayah bersiap masuk ke dalam kelas di Desa Sei Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (8/5/2019).TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
FOTO-FOTO Aktivitas Pesantren Al Hidayah yang Didirikan Mantan Terpidana Teroris di Deliserdang - aktivitas-pesantren-mantan-terpidana-teroris-1.jpg
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Pendiri Pesantren Al Hidayah yang merupakan mantan terpidana kasus terorisme Khairul Ghazali melaksanakan tadarus Alquran bersama para santri pada awal Ramadhan 1440 H di sela kegiatan sekolah di Desa Sei Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (8/5/2019)
FOTO-FOTO Aktivitas Pesantren Al Hidayah yang Didirikan Mantan Terpidana Teroris di Deliserdang - aktivitas-pesantren-mantan-terpidana-teroris-2.jpg
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Tiga orang santri Pesantren Al Hidayah memberi makan ayam peliharaan usai bersekolah di Desa Sei Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (8/5/2019).TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
FOTO-FOTO Aktivitas Pesantren Al Hidayah yang Didirikan Mantan Terpidana Teroris di Deliserdang - aktivitas-pesantren-mantan-terpidana-teroris-3.jpg
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Pendiri Pesantren Al Hidayah yang merupakan mantan terpidana kasus terorisme Khairul Ghazali (atas) memberi bimbingan kepada para santrinya di Desa Sei Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (8/5/2019).TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
FOTO-FOTO Aktivitas Pesantren Al Hidayah yang Didirikan Mantan Terpidana Teroris di Deliserdang - aktivitas-pesantren-mantan-terpidana-teroris-4.jpg
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Sejumlah santri Pesantren Al Hidayah bersama guru melaksanakan tadarus Alquran pada awal Ramadhan 1440 H di sela kegiatan sekolah di Desa Sei Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (8/5/2019).TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
FOTO-FOTO Aktivitas Pesantren Al Hidayah yang Didirikan Mantan Terpidana Teroris di Deliserdang - aktivitas-pesantren-mantan-terpidana-teroris-5.jpg
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Sejumlah santri Pesantren Al Hidayah bersama guru melaksanakan tadarus Alquran pada awal Ramadhan 1440 H di sela kegiatan sekolah di Desa Sei Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (8/5/2019).TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
FOTO-FOTO Aktivitas Pesantren Al Hidayah yang Didirikan Mantan Terpidana Teroris di Deliserdang - aktivitas-pesantren-mantan-terpidana-teroris-6.jpg
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Sejumlah santri Pesantren Al Hidayah bersama guru melaksanakan tadarus Alquran pada awal Ramadhan 1440 H di sela kegiatan sekolah di Desa Sei Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (8/5/2019).TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
FOTO-FOTO Aktivitas Pesantren Al Hidayah yang Didirikan Mantan Terpidana Teroris di Deliserdang - aktivitas-pesantren-mantan-terpidana-teroris-7.jpg
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Sejumlah santri Pesantren Al Hidayah bersama guru melaksanakan tadarus Alquran pada awal Ramadhan 1440 H di sela kegiatan sekolah di Desa Sei Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (8/5/2019).TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI

MEDAN-TRIBUN.com, DELISERDANG - Pondok Al-Hidayah, termasuk satu model pondok pesantren yang terbilang unik di daerah Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Tampak sejumlah santri melaksanakan tadarus Alquran bersama para guru dan kegiatan belajar lainnya pada awal Ramadhan 1440 H di sela kegiatan sekolah di Desa Sei Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (8/5/2019).

Didirikan pada tahun 2015 oleh seorang mantan pelaku teroris bernama Khairul Ghazali alias Abu Ahmad Yasin, yang sempat divonis enam tahun atas tindak pidana perampokan Bank CIMB Niaga pada Agustus 2010.

Pondok pesantren yang didukung oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini merupakan buah keinginan kuat Ghazali untuk memutus mata rantai paham radikal.

Ia ingin membimbing anak-anak mantan terorisme yang kerap menjadi korban atas perbuatan keji yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, sehingga menimbulkan rasa dendam lantaran ketidakpahaman dan dikucilkan dari lingkungan, bergelut dalam batin setiap anak yang mengetahui bahwa orang tuanya adalah teroris.

"Melihat banyaknya anak-anak eks teroris yang tidak sekolah atau putus sekolah bahkan menjadi buruh anak, tentunya ini membahayakan karena mereka bisa jadi mengikuti jejak langkah orang tuanya yang salah," ungkap Ghazali. (sky/tribun-medan.com)

Penulis: Risky Cahyadi
Editor: Risky Cahyadi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved