Liputan Khusus

Uang Sekolah Gratis Tapi Kekurangan Siswa, SD Negeri Sepi Peminat

Potret pendidikan sekolah multinasional yang mewah dan memakai kurikulum internasional, berbanding terbalik dengan pendidikan di sekolah reguler.

Uang Sekolah Gratis Tapi Kekurangan Siswa, SD Negeri Sepi Peminat
Tribun Medan/M Daniel Siregar
Aktivitas di kelas Sampoerna Academy Kompleks Citra Garden di Jalan Jamin Ginting, Medan, Senin (22/4). 

MEDAN, TRIBUN-Potret pendidikan sekolah multinasional yang mewah dan memakai kurikulum internasional, berbanding terbalik dengan pendidikan di sekolah-sekolah reguler.

Misalnya saja di SD Negeri 060835 Jalan Sei Deli No 3, Kelurahan Silalas, Kecamatan Medan Barat. Meski sekolah ini berada di pusat kota, namun nyatanya sekolah ini sepi peminat.

Padahal, menurut guru di sekolah tersebut, siswa yang hendak belajar tidak dipungut uang pendaftaran. Kemudian, pihak sekolah menggratiskan siswa uang sekolah. Dari keterangan seorang guru yang enggan menyebutkan identitasnya, di sekolah ini siswanya kurang lebih hanya 50 orang.

Tiap kelas diisi paling banyak 10 orang saja. Jika dilihat dari sisi gedung sekolah, bangunannya pun masih layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

"Yang sekolah di sini anak-anak sekitar sini, jadi permasalahannya sama seperti sekolah 37," katanya sembari menunjuk SD Negeri 060837 yang bangunannya berada di area yang sama, Kamis (2/5).

Baca: Masuk SD Rogoh Kocek Rp 66 Juta, Sekolah Multinasional Dianggap Lebih Berkualitas

Baca: Psikolog Irna Minauli: Anak-anak Sekolah Multinasional Cenderung Lebih Paham Budaya Luar

Sementara itu, guru olahraga SDN 060837 Muhammad Ahadi mengatakan, sekolah tempatnya mengajar telah kekurangan siswa sejak empat tahun terakhir. Saat ini total siswa SDN 060837 sebanyak 160 orang.

Menurut dia, hal ini disebabkan mulai banyaknya sekolah di lingkungan tersebut. Kemudian, adanya faktor penggusuran yang terjadi di sekitar Sungai Deli.

Akibat penggusuran ini, jumlah siswa di SDN 060837 dan SDN 060835 menurun tiap tahun. Kemudian, faktor lain adalah pengaruh jalan besar Guru Patimpus yang rawan jika dilewati anak-anak SD.

"Kan itu menyeberang anak-anak perlu dipikirkan juga. Dulu empat tahun yang lalu, murid di sini sampai 400 lebih. Sekarang sudah jauh berkurang," jelasnya.

Ahadi mengatakan, jumlah siswa dalam setiap kelas bervariasi. Misalnya saja, di kelas satu hanya ada 26 siswa, sedangkan di kelas dua hanya ada 29 siswa. Namun ia mengakui, jumlah tersebut masih lebih banyak daripada SDN 060835 yang hanya 50 siswa satu sekolah.

Halaman
123
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved