Liputan Khusus

Banyak Pelajar di Medan Utara Malas Sekolah karena Harus Menyeberang Laut

Rajudin mengatakan, saat ini Medan bagian Utara masih banyak tertinggal, baik dari segi pendidikan, ekonomi dan infrastruktur.

Banyak Pelajar di Medan Utara Malas Sekolah karena Harus Menyeberang Laut
Tribun Medan/Liska Rahayu
Potret siswa SD Negeri 066659 Jalan Young Panah Hijau, Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan beberapa waktu lalu. Banyak anak usia sekolah yang putus sekolah di daerah Medan Utara. 

TRIBUN-MEDAN.com-Untuk menekan angka putus sekolah di kawasan Medan Utara, pemerintah saat ini fokus membangun sekolah dan sarana kesehatan.

Anggota Komisi B DPRD Kota Medan, Rajuddin Sagala mengatakan, di Medan Utara masih ada wilayah yang sama sekali tidak ada sekolahnya.

"Di Medan bagian utara memang banyak sekolah, tetapi di kotanya, bukan di pinggirannya. Bahkan, masih ada tempat yang tidak ada sekolahnya, harus menyeberang dulu. Mungkin itu juga yang membuat mereka malas sekolah," ucapnya, Kamis (9/5).

Rajudin mengatakan, saat ini Medan bagian Utara masih banyak tertinggal, baik dari segi pendidikan, ekonomi dan infrastruktur.

Baca: Uang Sekolah Gratis Tapi Kekurangan Siswa, SD Negeri Sepi Peminat

Baca: Meski Harga Selangit, Sekolah Internasional Tetap Diminati Orang Tua untuk Menyekolahkan Anaknya

Baca: Ini Daftar Kepala Sekolah dan Pengurus K3S yang Diciduk Polda Sumut Terkait Kasus Dana BOS

Sehingga, dengan rendahnya kemampuan ekonomi masyarakat, memengaruhi pemahaman mereka tentang pentingnya pendidikan. Rendahnya kemampuan ekonomi, membuat masyarakat merasa bahwa pendidikan tidak penting.

"Kami dari DPRD beberapa kali sudah masukkan ke banggar tentang pentingnya sekolah baru diwujudkan di daerah terpencil. Kemudian fasilitas kesehatan juga. Mungkin hanya tinggal realisasinya, kalau di DPRD sudah kita anggarkan," tegasnya.

Selain itu, sambung Rajuddin, pemerintah harus meningkatkan perhatian terhadap anak usia sekolah. Dalam artian, pemerintah harus memberikan pelatihan khusus untuk mengasah kemampuan, sehingga setelah lulus sekolah pun, anak-anak tersebut siap untuk bekerja.

"Karena selama ini, apa yang kita lihat, sekolah pun mereka nganggur juga. Mereka mungkin berpikir, sudahlah cari duit saja walaupun pas-pasan. Jadi pemerintah harus membuka lapangan kerja," ucapnya. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan Kota Medan, terdapat 81 siswa Sekolah Dasar se-Kota Medan putus sekolah pada tahun ajaran 2017/2018.

Sementara pada tahun ajar 2016/2017, tercatat sebanyak 83 siswa yang putus sekolah. Sementara itu, siswa SMP yang putus sekolah lebih banyak lagi, yakni sebanyak 124 orang pada tahun ajaran 2016/2017. Sedangkan pada tahun ajaran 2017/2018 sebanyak 183 siswa.

Jika dipresentasikan, siswa SD yang putus sekolah pada tahun ajaran 2017/2018 sebesar 0,03 persen. Angka tersebut juga terjadi pada tahun ajaran 2016/2017. Sedangkan untuk tingkat SMP, pada tahun ajaran 2017/2018, siswa yang putus sekolah sebesar 0,14 persen.

Sedangkan pada tahun ajaran 2016/2017 sebesar 0,1 persen. Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Medan, Masrul Badri menjelaskan, saat ini angka putus sekolah siswa SD sangat rendah. Ia mengatakan, angka tersebut turun dari tahun ke tahun.

"Dari tahun ke tahun turun, tapi masih ada. Namun memang faktornya bukan karena biaya. Bukan faktor biaya sekolah, karena uang sekolah enggak bayar dan buku dikasih. Seragam juga, ada KIP (Kartu Indonesia Pintar) lagi, jadi lebih banyak ke faktor keluarga," katanya. Misalnya saja, Masrul mencontohkan, seorang anak nelayan yang disuruh ikut melaut. Atau orangtua yang menyuruh anaknya untuk membantu ayahnya bekerja karena kesulitan ekonomi.

"Tapi kalau kesulitan untuk sekolah, saya rasa tidak. Wajib belajar sembilan tahun kan dibiayai pemerintah. Pemerintah pusat dan kota membiayai. Pemerintah kota memberikan beasiswa untuk siswa miskin, baju seragam sekolah. Jadi masalah kemauan dan budaya saja," ucapnya.

Bahkan saat ini, kata Masrul, ada sekolah yang sengaja mengejar-ngejar siswanya. Seperti sekolah KLK (Kelas Layanan Khusus) milik Dinas Pendidikan Kota Medan di daerah Belawan. Di sana, guru-guru mendatangi kampung-kampung nelayan untuk merayu agar anak-anak di sana bisa sekolah. (cr5)

Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved