Balai Bahasa Susun Perlombaan Media Massa Terbaik Sumatera Utara

Balai Bahasa dan rekan media pun menyimpulkan bahwa hilangnya penggunaan bahasa dilatarbelakangi ketakutan media meninggalkan pangsa pasarnya.

Balai Bahasa Susun Perlombaan Media Massa Terbaik Sumatera Utara
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Rapat pengendalian pemanfaatan dan penggunaan bahasa di kalangan media massa yang dipimpin oleh Kepala Balai Bahasa Fairul Zabadi di Aula Balai Bahasa Sumatera Utara, Senin (13/5/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Mengingat masih kurangnya penerapan bahasa Indonesia yang baik dalam produk media massa, Balai Bahasa Sumatera Utara mengadakan rapat dengan sejumlah perwakilan dari kalangan media di Kota Medan.

Kali ini, kantor yang terletak di Jalan Kolam No. 7, Kecamatan Percut Seituan, Deliserdang mengundang beberapa redaktur media cetak dan media elektronik.

Kepala Balai Bahasa Sumatera Utara Fairul Zabadi menyampaikan bahwa peran media sebenarnya sangat penting sebagai penyambung lidah Balai Bahasa menyosialisasikan bahasa. Ia menilai peran media jadi ujung tombak dalam pembinaan bahasa.

"Ada tiga peran media dalam bahasa, pertama, Media merupakan pelaku pembinaan, pelopor, dan penggerak bahasa. Kedua, media merupakan pelaku atau pengembang kosakata baru dan ketiga, peran media adalah sebagai keteladanan," ujar Fairul Zabadi.

Namun demikian, seiring perkembangan waktu, Balai Bahasa menemukan seringnya media massa meninggalkan kaidah kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal tersebut dijelaskan Fairul tentu berdampak dalam penggunaan bahasa oleh masyarakat di luar.

Fairul pun beberapa kali mengajak tamu undangan, dalam hal ini rekan media untuk memberikan penjelasan terkait adanya kehilangan penggunaan bahasa dalam produk jurnalistik.

Kemudian Balai Bahasa dan rekan media pun menyimpulkan bahwa hilangnya penggunaan bahasa dilatarbelakangi ketakutan media meninggalkan pangsa pasarnya.

"Memang agak sulit menerapkan kaidah bahasa dengan media yang punya inframe Millenial. Jika masih ingin menerapkan itu seharusnya redaktur media dapat menggunakan tanda jika kosakata itu baku atau cakapan," ujar Fajrul ditemani jajaran pegawai Balai Bahasa Sumatera Utara.

Balai Bahasa dijelaskannya, tidak menampik jika perusahaan media ingin masuk ke ranah millenial. Tetapi, ia ingin media juga memiliki tanggungjawab untuk menjaga bahasa bangsa Indonesia.

"Kebanyakan ini, kita takut karena akan mengubah hal yang sudah tabu. Hal yang sudah biasa. Membenarkan kosakata yang salah jadinya," sambungnya.

Halaman
12
Penulis: Alija Magribi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved