Bentrok OKP, Terdakwa Pembacokan Ragu Dituduh jadi Pelaku karena saat Kejadian Mabuk Tuak

saksi dan korban selama sidang memberatkan terdakwa Riki yang melakukan penganiayaan penikaman terhadap Irul hingga usus korban terburai.

Bentrok OKP, Terdakwa Pembacokan Ragu Dituduh jadi Pelaku karena saat Kejadian Mabuk Tuak
TRIBUN MEDAN/DEDY KURNIAWAN
Terdakwa pembacokan bentrok antar OKP usai sidang di PN Binjai, Senin (13/5/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Pengadilan Negeri Binjai kembali menggelar sidang lanjutan bentrok antara IPK dan FKPPI.

Empat terdakwa yakni Riki Sitepu, Irfandi alias Irfan, Riswanto Ginting dan Hendrik alias Gaboh duduk berbarengan di bangku pesakitan di Ruang Cakra, Senin (13/5).

Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Fauzul Hamdi didampingi David Simaremare beragenda mendengarkan keterangan terdakwa.

Sejumlah saksi dan korban selama sidang memberatkan terdakwa Riki yang melakukan penganiayaan penikaman terhadap Irul hingga usus korban terburai.

Dalam sidang, terdakwa ditanyai lebih awal. Irfan yang mengaku seorang diri menemui Koordinator Lapangan Arena Pasar Malam yang jadi TKP bentrok untuk permasalahan bagi-bagi lahan parkir.

"Saya sendiri di situ mau cari tempat lokasi parkir, berkomunikasi baik dengan Korlap Arena Pasar Malam. Enggak ada jumpa sama korban, sama Korlap saya jumpa. Korlap Pasar Malam. Lalu saya tarik pakai tali yang disuruh (Korlap) kompromi dengan pemuda situ, bagi dua," jelas Irfan.

Yang dilakukan Irfan menarik seutas tali menimbulkan pemicu keributan, FKPPI tak‎ rela berbagi lahan. Irfan pun lantas berhasil kabur setelah sekelompok massa dari FKPPI mendatangi lokasi Arena Pasar Malam.

Terdakwa Riswanto yang ditanya majelis hakim lebih banyak menjawab tidak tahu. Tapi Terdakwa Riki yang diberatkan dalam sidang sebelumnya melakukan aniaya pun tak memberikan penjelasan yang zahir.

Riki mengaku, diajak seseorang yang akrab disapa Kojek. Mereka pergi ke TKP bentrok menaiki mobil Vios yang bawa Kojek‎. Sesampai di TKP, Riki melihat ada sekelompok orang berseragam FKPPI sehingga bentrok pecah.

Rancunya, Riki tak bisa menjawab pasti cecaran pertanyaan hakim ketua. Dimana hakim ketua memastikan apa benar Riki yang melakukan penikaman terhadap korban, dan alasan membawa pisau.

"Saya memang sering bawa pisau, saya kan jaga palang. Untuk jaga-jaga (bawa pisau). Perasaan saya yang nikam, saya lagi mabuk itu, Pak. Mabuk tuak, dari siang sampai sore. perasaan saya nikam. Sadar gak sadar, kayaknya saya yang nikam, gak yakin juga," katanya berkelit.

Saat bentrok pecah, Riki mengaku enggak sadar karena mabuk. ‎Karenanya, dia tak dapat menjelaskan secara rinci kepada majelis hakim. Hal ini sama dengan keterangan korban yang membantah empat terdakwa pelaku pembacokan.

‎"Makanya minum itu kayak Orang Barat. Untuk sekedar hangat saja. Beda memang kita sama orang sana. Kalau kita ada yang memang minum itu untuk berani. Jangan lagi kau (Riki) bawa senjata tajam. Tinggi itu ancamannya, bisa kena Undang-Undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951. Kecuali petani, tukang daging, baru boleh. Kamu dengar itu ya, enggak boleh gitu (bawa sajam)," kata majelis hakim.

Sedangkan, terdakwa Hendrik alias Gaboh tidak banyak berkomentar. Dia hanya mengaku ada ikut ‎melakukan penganiayaan.

"Khairul itulah yang saya pukul," sebut Gaboh.

Selanjutnya, majelis hakim memberi giliran kepada Jaksa Penuntut Umum Perwira Tarigan untuk melakukan pemeriksaan terhadap keempat terdakwa. Tak banyak yang ditanya oleh JPU Perwira.

"Sidang ditunda untuk memberi kesempatan kepada JPU membuat tuntutannya. Sidang dilanjutkan Senin 20 Mei 2019," tutup Fauzul sembari mengetuk palu hingga tiga kali.

Sebelumnya, ‎JPU Perwira mendakwa keempat terdakwa dengan Dakwaan Primair Pasal 170 ayat (2) Subsidair Pasal 351 ayat (2). Sidang sebelumnya disebut majelis hakim aneh. Pasalnya, korban penganiayaan membantah keempat terdakwa yang menganiaya. Sementara keempat terdakwa bersikeras mengklaim melakukan penganiayaan.

Diketahui, IPK dengan FKPPI bentrok yang berujung pembacokan terhadap Irul di areal kosong Pabrik Getah Lama yang dijadikan Arena Pasar Malam, Jalan Jamin Ginting, Kelurahan Rambungbarat, Binjai Selatan, 18 Januari 2019 lalu. Bentrok yang ditengarai karena rebutan lahan parkir Arena Pasar Malam ini mengakibatkan dua korban jatuh.

Paling parah Irul yang mengalami luka bacok di perut sebelah kanan hingga ususnya terburai. Selain itu, Irul mengalami luka bacok sebelah tangan kiri bagian siku. Sedangkan Darma mengalami luka goresan di tangan sebelah kiri dan punggung.

(dyk/tribun-medan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved