Perwira Tarigan Tolak Eksepsi Bandar Sabu Ame Cs

Pak jaksa mau gimana? Gak bisa langsung-langsung aja, tanya dulu penasehat hukum.

Perwira Tarigan Tolak Eksepsi Bandar Sabu Ame Cs
TRIBUN MEDAN/DEDY KURNIAWAN
Sidang lanjutan Ame Cs di Pengadilan Negeri Binjai, Senin (13/5/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Jaksa Penuntut Umum perkara bandar Sabu Suarni alias Ame CS, Perwira Tarigan menolak eksepsi atau sanggahan dari terdakwa yang dilayangkan melalui Penasehat Hukumnya.

Penolakan disampaikan dalam sidang lanjutan bandar sabu yang digelar Majelis Hakim Pengadilan Negeri Binjai di Ruang Cakra, Senin (13/5/2019).

"Mau dibacakan atau anggap dibacakan?" tanya Ketua Majelis Hakim, Fauzul Hamdi dalam persidangan.

"Sudah pak. Cukup (anggap dibacakan)," jawab JPU Perwira.

"Pak jaksa mau gimana? Gak bisa langsung-langsung aja, tanya dulu penasehat hukum. Cukup ya. Berarti anggap sudah dibacakan. Sidang dilanjutkan minggu depan ya, 20 Mei 2019 dengan agenda putusan sela," tutup Fauzul sembari mengetuk palu tiga kali.

Usai sidang, JPU Perwira menolak eksepsi dari terdakwa melalui PH merek. "Menyatakan keberatan yang diajukan terdakwa melalui PH dalam eksepsi pada 30 April 2019 yang menolak secara keseluruhan. Perkara ini tetap dilanjutkan," ujar Perwira.

Sementara, Humas PN Binjai, David Simare-mare menyatakan, putusan sela adalah melahirkan sebuah putusan terhadap eksepsi atau sanggahan dari terdakwa.

"Artinya putusan sela ini mengeluarkan putusan bahwa apakah perkara tetap dilanjutkan atau tidak sidang tersebut.‎ Menerima atau tidak nanti melalui putusan yang dikeluarkan setelah ditanggapi jaksa. Wajib mengeluarkan putusan sela," ujar David di PN Binjai.

Revai J Nababan penasehat hukum ketiga terdakwa menyatakan keberatan atas dakwaan Jaksa yang sudah didengar dalam sidang perdana, beberapa waktu lalu. Keberatan dimaksud yakni, kata dia, karena Pohan satu dari keempat terdakwa masih menghirup udara segar, sehingga persidangan ini tidak dapat mengungkapkan fakta sebenarnya dalam persidangan.

"Keberatan lain tentang penangkapan yang tidak sah secara hukum karena melanggar KUHAP sesuai Pasal 24, 25 dan 26," ujar Revai dari Kantor Pengacara Marbun Brother and Partners di PN Binjai.

"Kemudian juga pemberitahuan waktu masa tahanan dan pemberitahuan kepada keluarga yang tidak dilakukan. Ini tidak sesuai KUHAP yang diatur dalam Pasal 18 ayat 3 dan Pasal 21 ayat 2. Seharusnya itu diketahui oleh keluarga terdakwa. Tapi itu tidak ada (diketahui keluarga terdakwa)," sambung Revai.

Revai mendesak agar polisi segera menangkap Pohan. Bahkan dia menilai berkas Pohan dari polisi ke jaksa dinyatakan lengkap atau P21,dengan kata lain, jaksa dapat menyatakan lengkap berkas tersangka dengan catatan yang disangkakan harus ditahan.

"Jika Pohan tidak ditangkap, saya menduga, perantara tersebut mengorbankan kliennya. Ini ditumbalkan. Untuk itu kami meminta dakwaan (jaksa) batal demi hukum.‎ Kita mau kepastian hukum," tukasnya.

JPU Perwira Tarigan mendakwa Suarni alias Ame terduga bandar sabu dengan Dakwaan Primair Pasal 114 ayat (2) ‎Subsider 112 ayat (2). Sedangkan Suratman dan Juna didakwa dengan Dakwaan Primair Pasal 114 ayat (2) Subsidair 112 ayat (2) serta Lebih Subsidair 132. Keempat tersangka diketahui juga sempat ditangguhkan lantaran masa penahanan mereka habis di kepolisian. Penangguhan terjadi karena jaksa tidak menyatakan lengkap atau P21 berkas mereka. Namun belakangan, tiga dari keempat tersangka ditangkap kembali oleh polisi hingga akhirnya jaksa menyidangkan mereka di PN Binjai.

Diketahui, dari keempat tersangka polisi menyita barang bukti sebanyak 95,69 gram yang dikemas dalam 1 bungkus plastik besar dan dua paket kecil. Selain itu, polisi juga menyita satu butir pil ekstasi warna hijau, satu buah timbangan elektrik, dua buah skop berbahan pipet, 50 plastik klip besar transparan, satu buah kotak lampu dan satu buah dompet yang diduga sebagai tempat menyimpan sabu serta buah telepon genggam.

Keempat tersangka diciduk polisi di Jalan Petai Pasar 2 Cina, Komplek Mahkota Permai, Binjai Utara, Senin (29/10) lalu.

Hasil penyidikan polisi, Suarni merupakan bandar atau pemilik narkoba. Sedangkan Pohan merupakan tangan kanan Suarni. Dua tersangka sisanya yakni Suratman dan Juna merupakan kaki tangan bandar.

(dyk/tribun-medan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved