Refleksi Tragedi 98, Pengakuan Saksi Hidup Jatuhnya Rezim Orde Baru

Aksi unjuk rasa dilakukan secara masif sebulan penuh selama Mei 1998. Beberapa kerusuhan juga tak dapat terelakkan.

Refleksi Tragedi 98, Pengakuan Saksi Hidup Jatuhnya Rezim Orde Baru
TRIBUN MEDAN/IST
Tragedi Mei 98 saat mahasiswa menduduki gedung DPR RI.

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Hari ini (13/5/2019) tepat 21 tahun lalu, gelombang unjuk rasa di Indonesia merebak.

Tuntutan agar Soeharto lengser keprabon madeg pandhito atau turun dari tahta presiden menjadi pemicunya.

Unjuk rasa besar-besaran juga terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara. Mahasiswa kompak melakukan unjuk rasa di mana-mana.

Aksi unjuk rasa dilakukan secara masif sebulan penuh selama Mei 1998.
Beberapa kerusuhan juga tak dapat terelakkan.

Baik bentrok antara mahasiswa dengan aparat keamanan, atau pun peristiwa penjarahan di pusat kota yang dilakukan masyarakat. Sampai akhirnya, Presiden Soeharto lengser pada 21 Mei 1998.

Hal itu menjadi momen yang tak terlupakan bagi para mahasiswa dan juga tokoh gerakan didalamnya.

Tokoh gerakan mahasiswa yang terlibat aktif pada 1998 silam, Dadang Darmawan Pasaribu berbagi cerita. 

Ia membuka tabir bagaimana dia merasakan unjuk rasa yang tak ada hentinya. Hingga Soeharto lengser dan hal itu menjadi pengobat letih selama di jalanan.

Saat itu, Dadang menjabat sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Sumatera Utara (Badko HMI Sumut).

Mereka sepakat untuk melakukan unjuk rasa. Konsolidasi antar kelompok gerakan mahasiswa sudah seperti menu makanan yang wajib ada setiap hari.

Halaman
1234
Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved