Komunitas Sanggar Teholi, Kumpulan Pemuda Perantauan Nias yang Mengusung Kebudayaan

Lambat laun, jumlah anggota pun bertambah dari generasi pertama sebanyak 22 orang menjadi 33 orang tahun ini dibawah binaan Man Harefa.

Komunitas Sanggar Teholi, Kumpulan Pemuda Perantauan Nias yang Mengusung Kebudayaan
Tribun medan/Alija Magribi
Komunitas Sanggar Teholi saat beraksi di Gelanggang Remaja Provinsi Sumatera Utara, Sabtu (11/5/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com-Sempat mengisi acara dalam Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) tahun 2017 di Medan, sejumlah pemuda asal Pulau Nias ini pun berikrar membentuk komunitas anak Nias di perantauan. Komunitas ini pun berkembang hingga membentuk sebuah sanggar bernama Sanggar Teholi.

"Awalnya, kami sekumpulan pemuda ini diajak Pemkab Nias untuk mengisi acara di PRSU tahun 2017. Seusai acara, salahsatu teman kami yang kini bekerja di Pemkab Nias mengusulkan bagaimana kalau kami kami ini membentuk komunitas sanggar yang diisi anak anak bertalenta dan berwawasan budaya Nias," ujar anggota Komunitas Johannes Waruwu, Selasa (14/5/2019)

Lambat laun, jumlah anggota pun bertambah dari generasi pertama sebanyak 22 orang menjadi 33 orang tahun ini dibawah binaan Man Harefa. Perkumpulan yang di awal awal hanya sekadar kesamaan nasib di perantauan pun berkembang dengan melahirkan karya karya budaya Nias.

Sejumlah tari tarian klasik Nias maupun kreasi baru hadir dari kerjasama Komunitas Sanggar Teholi. Lebih dari itu, Sanggar Teholi pun mampu mengubah legenda Goa lawomaru di Nias menjadi tarian yang bernilai komersial di mata masyarakat.

Goa Lawomaru merupakan kisah di mana salah seorang pemuda yang dulunya tinggal di sebuah gua yang yang kini dinamai gua Laowomaru. Laowomaru memiliki kekuatan luar biasa yang berasal dari sembilan rambut kawat yang tumbuh di kepalanya. Kekuatannya tersebut memberikannya kekebalan dari senjata tajam sekaligus memberinya kekuatan yang luar biasa.

Kekuatannya itu membuat semua orang menakutinya pada saat itu. Kapal-kapal yang mencuri dan sering berlayar di melintasi perairan di depan guanya pun semuanya dibajak dan muatannya dirampas oleh Laowomaru. Beberapa kelompok atau kerajaan kecil pada masa itu pun mencoba memerangi Laowomaru, namun semuanya berakhir dengan kegagalan.

Namun sebenarnya, Laowomaru tetap memiliki kelemahan, yakni istrinya, Sihoi. Sihoi diculik dan disiksa untuk memberitahukan kelemahan Laowomaru. Sihoi pun akhirnya memberitahu bahwa Laowomaru akan melemah jika kesembilan rambut kawat yang ada di kepalanya dicabut.

Alhasil rambut kawat itu berhasil dicabut oleh para musuh Laowomaru, dan Laowomaru pun tamat riwayatnya. Kisah tersebut pun dimainkan Sanggar Teholi di Gelanggang Remaja Provinsi Sumatera Utara beberapa hari yang lalu.

Selain Tari Goa Laowomaru, sejumlah tari-tari lainnya mampu diperankan oleh Komunitas Sanggar Teholi seperti Tari Tuwu, Tari Garapan Niha Funa dan Tari Fangowalu Ba Dano Niha.

Salah satu tokoh masyarakat Nias di Medan yang juga mantan perwira polisi, Anofuli Lase menyampaikan rasa bangganya atas kemauan pemuda pemudi Nias di Medan.

Halaman
12
Penulis: Alija Magribi
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved