Terdakwa Korupsi BRI Agroniaga Rp 23,5 Miliar Tertunduk Lesu, Pengacara: Perhitungannya tak Riil

Selama persidangan pria yang tampak mengenakan baju cokelat koko lengan pendek tampak terus menunduk untuk menghindari jepretan kamera awak media.

Terdakwa Korupsi BRI Agroniaga Rp 23,5 Miliar Tertunduk Lesu, Pengacara: Perhitungannya tak Riil
TRIBUN MEDAN/VICTORY HUTAURUK
Mulyono terdakwa dugaan kasus korupsi pengajuan kredit BRI Agroniaga Cabang Rantauprapat sebesar Rp 23,5 miliar menjalani sidang jawaban jaksa atas eksepsi di PN Medan, Kamis (16/5/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Mulyono terdakwa dugaan kasus korupsi pengajuan kredit BRI Agroniaga Cabang Rantauprapat sebesar Rp 23,5 miliar menjalani sidang jawaban jaksa atas eksepsi di PN Medan, Kamis (16/5/2019).

Dalam keterangannya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tengku Adlina menuturkan pihaknya masih tetap tetap berpedoman sesuai dengan isi surat dakwaan.

Selama persidangan pria yang tampak mengenakan baju cokelat koko lengan pendek tampak terus menunduk untuk menghindari jepretan kamera awak media.

Seusai sidang, juga Mulyono tak ingin memberikan keterangan atas perbuatannya yang diduga telah merugikan negara Rp 23,5 miliar. "Sama pengacara saya saja langsung," cetusnya.

Sementara, Pengacara terdakwa, Iwan Wahyudi menjelaskan bahwa dalam dakwaan jaksa terdapat kekeliruan dimana perhitungan kerugian negara terhadap kliennya tidak menggubakan audit BPK melainkan audit pihak independen.

"Tanggapan jaksa atas eksepsi yang kita ajukan, bahwa dakwaan tersebut tidak jelas atau keliru. Karena di dalam dakwaannya perhitungan kerugian negara tidak dilakukan oleh BPK. Yang BPK memang ada di dakwaan, tetapi tidak ada nomor suratnya. Sehingga yang menghitung kerugian negara di sini justru yang dari independen, Arnold Makawimbang, itu yang dipakai Jaksa hitung kerugian negaranya," tuturnya kepada Tribun.

Ia menjelaskan bahwa jaksa memang melakukan penghitungan kerugian negara pada tiga lembaga yakni, lembaga independen, BPK dan inspektorat.

Namun, dari ketiga yang diunjuk jaksa menghitung kerugian negara dalam kasus korupsi pengajuan kredit itu berbeda satu dengan yang lain.

"Tiga-tiganya beda, tidak ada yang ril sama, tidak ada yang mendekati angka pas. Misalnya perhitungan BPK itu 17 m tapi dari pihak independen berbeda, jadi yang dipakai mereka ini yang pihak independen. Harusnya menghitung kerugian negara harus ada angka yang pas. Jelas dakwaan terhadap Mulyono, jelas tidak cermat dan sangat keliru," pungkasnya.

Dalam Dakwaan Jaksa, awalnya kasus ini bermula dari temuan hasil pemeriksaan Satuan Kerja Audit Internal (SKAI) BRI Agroniaga Pusat pada tahun 2014 terhadap BRI Agroniaga Cabang Rantau Prapat.

Halaman
123
Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved