Sangha Agung Indonesia: Mencintai Tanah Air Indonesia

Sujud syukur kepada Triratna, sebagai penghormatan kepada Adi Buddha. Berkat kebajikan ini, kita dapat berkumpul untuk memperingati Trisuci Waisak 25

Sangha Agung Indonesia: Mencintai Tanah Air Indonesia
TRIBUN MEDAN/HO
Khemācaro, Mahathera - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Sangha Agung Indonesia 

MEDAN.TRIBUNNEWS.com, MEDAN - Sujud syukur kepada Triratna, sebagai penghormatan kepada Adi Buddha. Berkat kebajikan ini, kita dapat berkumpul untuk memperingati Trisuci Waisak 2563 TB. Mengingat kembali tiga peristiwa agung, yaitu kelahiran Bodhisatwa Siddhartha (M.iii.120), Pencapaian Pencerahan Bodhisatwa Siddhartha menjadi Samasammbuddha Gotama (M.i.249), dan parinirwana Buddha Gotama (D.ii.156), saat purnama di bulan Vesakha. Ini merupakan salah satu upaya membangkitkan dan meningkatkan keyakinan.

Bangsa Indonesia, terdiri lebih dari 1.340 suku dan telah memiliki tradisi luhur turun-temurun, hingga menjadi budaya dan falsafah. Falsafah bangsa Indonesia saat ini di kenal dengan nama Pancasila, yang menjadi dasar pemersatu dan perilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, saat ini budaya jauh dari nilai kearifan, pendidikan jauh dari keteladanan, agama jauh dari ketentraman, kebhinekaan jauh dari kesatuan, dan Pancasila jauh dari terapan. Ini menandakan lunturnya cinta tanah air terhadap Indonesia.

Lalu, bagaimana peran agama Buddha dalam hal ini?  Buddha mendorong para siswa, agar memiliki kecintaan terhadap tanah air, dimana mereka terlahir dan tinggal untuk tumbuh berkembang. Beliau memberikan pesan: “Para biku, Aku izinkan mempelajari Dharma dengan bahasamu sendiri” (Vin.ii.139). Maka, dalam perkembangannya agama Buddha dibelahan dunia, memiliki bentuk budaya yang berbeda-beda.

Buddha hanya merubah perbuatan buruk menjadi perbuatan baik, bukan merubah budaya dan falsafah negara. Di Indonesia, sejak kejayaan Sriwijaya hingga sekarang perkembangan agama Buddha tidak merubah budaya yang menjadi kekayaan bangsa.

Terlihat jelas, peninggalan agama Buddha masa lampau berupa bangunan candi dengan corak seni dan budaya nusantara, bukan luar negeri.

Semboyan pemersatu bangsa “Bhinneka Tunggal Ika” (KS.139.5). Adalah karya seorang Guru Dharma, putra bangsa di zaman kerajaan Majapahit di abad 14. Ini semua merupakan bukti wujud agama Buddha mencintai tanah air Indonesia. Di era setelah kemerdekaan bangsa Indonesia, hingga sekarang.

Pelopor kebangkitan agama Buddha Indonesia, yaitu Mendiang Mahabiksu Jinarakkhita, Mahathera. Beliau menekankan umat Buddha Indonesia harus mencintai tanah air. Ini dilakukan melalui gerakan agama Buddha Indonesia, bukan agama Buddha di Indonesia, dengan ciri kepribadian bangsa Indonesia.

Gerakan ini dikenal sebagai Buddhayana, adalah ajaran Buddha asli, yang melihat keragaman budaya dan metode memiliki satu esensi, yaitu pembebasan. Mendiang Mahabiksu Jinarakkhita, Mahathera mengedepankan pandangan non-sektarian untuk melihat secara objektif kebhinekaan yang ada di Indonesia.

Inilah wujud mencintai tanah air yang diajarkan Buddha dari zaman lampau hingga sekarang.  Sangha Agung Indonesia mengajak seluruh Keluarga Buddhayana Indonesia, untuk kembali menggali nilai-nilai kearifan budaya Indonesia, memberikan keteladanan bagi generasi, menjadikan agama sebagai sumber ketentraman, kebhinekaan sebagai kekuatan persatuan, dan Pancasila sebagai dasar dan perilaku hidup dalam berbangsa, bernegara dan beragama.

Senantiasa memiliki perbuatan, ucapan, pikiran berdasarkan cinta-kasih; saling berbagi, tidak saling menyakiti, dan mengharga segala bentuk perbedaan (A.iii.288-89).

Semoga momentum peringatan waisak menguatkan kembali Cinta Tanah Air masyarakat Indonesia, sehingga akan terus menjaga keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cintailah tanah air Indonesia. Jayalah bangsaku, jayalah negeriku, jayalah Indonesiaku. Selamat merayakan Waisak 2019/2563 TB. Semoga dengan kekuatan Buddha, Dhamma dan Sangha para dewa memberkati Anda.

Editor: Ismail
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved