DANA KEMANUSIAAN TRIBUN SALURKAN DANA
Pemkab Sleman Tiru Cara Jepang Tangani Korban Merapi
Pemerintah Kabupaten Sleman akan mengadopsi cara Jepang menanggulangi dampak letusan Gunung Merapi
TRIBUN-MEDAN.com, YOGYAKARTA - Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta akan mengadopsi cara Jepang dalam menanggulangi dampak letusan Gunung Merapi 2010.
Pemkab berencana menyediakan kompleks khusus yang telah dibangun aneka rupa fasilitas untuk menampung warga korban bencana.
Demikian disampaikan Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Sleman dr Sunartono MKes pada acara peletakan batu pertama pembangunan gedung Taman Kanak-kanak (TK) Aisyiah Bustanul Athfal, dan Renovasi SD Muhammadiyah Girikerto di Desa Sidokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Sabtu (9/4/2011).
Sunartono menambahkan melihat tingginya kepedulian perusahaan swasta yang membantu korban letusan Merapi di wilayah pemerintahan Sleman, Pemkab berencana mengadopsi cara Pemerintah Jepang menangani warga korban bencana, yakni dengan membuat kawasan-kawasan khusus untuk penyaluran bantuan pascabencana.
"Misalnya, disediakan satu kompleks, yang semua fasilitas A-Z disediakan lengkap di situ," kata Sunartono, yang mengenakan batik lengan pendek warna biru.
Untuk menghargai dan menghormati pihak penyumbang, terutama lembaga swasta, Pemkab Sleman memberi ruang seluas-luasnya untuk publikasi. Misalnya, dengan membuat prasasti yang menonjol di lokasi yang disumbang.
Di bagian lain, Sunartono mengatakan, pendidikan anak sejak usia dini perlu diperhatikan dengan baik. Mendidik anak-anak di sekolah-sekolah yang memiliki fasiltias dan sarananya memadai. Itulah sebabnya, Sunartono merasa senang, masih ada lembaga bisnis yang memperhatikan pendidikan usia dini.
"Pendidikan usia dini sangat perlu. Dan saat ini, kami berteima kasih karena Tribun memperhatikan pendidikan anak di usia dini, dengan membangun sekolah baru untuk TK ABA di Ngangkring ini," ujar Sunartono.
Pendapat senada dikemukakan Kepada Dinas Pendidikan dan Olahraga Pemkab Sleman Nursyamsih. "Pendidikan usia dini sangat perlu kita perhatikan. Kita mengenal apa yang disebut golden age, untuk anak sampai 4 tahun. Kalau pendidikan mereka baik, diharapkan mereka lah yang akan memimpin bangsa ini di masa depan," kata Nursyamsih yang memberi sambutan sebelum Sekda.
Sekda menjelaskan, dampak letusan Gunung Merapi Oktober 2010, hingga saat ini belum teratasi secara tuntas. Ia mencontohkan, perbatasan wilayah admistrasi di tingkat dusun sulit dikenali karena tanda-tanda atau titik-titik yang sebelumnya tersedia, kini tertimbun lahar.
Pascabencana beruntun melanda Indonesia akhir 2010, Group Regional Newspaper Kompas Gramedia atau lebih dikenal dengan sebutan Tribun Network, membuka dompet Dana Kemanusiaan Tribun (DKT) untuk korban bencana alam Wasior, Mentawai dan Merapi. Lalu DKT menghimpun dana dari pembaca dan masyarakat.
Hingga 31 Desember 2010, saat pengumpulan dana ditutup, terhimpun dana Rp 3,4 miliar. Senilai Rp 1,5 miliar sumbangan pembaca telah disalurkan manajemen Barnjarmasin Post melalui pemerintah daerah setempat.
Untuk korban letusan Gunung Merapi dana diwujudkan dalam bentuk pembangunan gedung TK Aisyiah Bustanul Athfal Girikerto, dan renovasi SD Muhammadiyah Girikerto. (Tribunnews/domu d ambarita)