Tato Waeputih , Bukti Cinta Gaston
Takdir yang membawa sang ayah menemukan jodohnya di Belanda.
Penulis: Randy P.F Hutagaol | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.com MEDAN - Takdir yang membawa sang ayah menemukan jodohnya di Belanda. Akhirnya mengharuskan gelandang keturunan Indo-Belanda Bintang Medan FC Gaston Salasiwa lahir di negeri Kincir Angin itu. Namun baginya, dia adalah orang Indonesia.
Lajang berdarah Ambon kelahiran Zaandam, Zaanstad Belanda 22 tahun lalu itu memang bukanlah warganegara Indonesia. Tapi sejarah panjang sang ayah Johnny Salasiwayang lahir dan besar di Indonesia tepatnya di desa Waeputih di Pulau Buru membuatnya turut mencintai negeri ibu pertiwi ini. Perjuangan sebagai pemain sepakbola profesional pun akhirnya menjadi penentu baginya untuk mengenal Indonesia.
“Ada tawaran untuk saya main di klub LPI (LIga Primer Indonesia) yang saya belum tahu kompetisi tersebut akan seperti apa. Tetapi karena saya tahu kompetisi itu di Indonesia, saya tidak berfikir dua kali untuk bergabung,” ujar pemain yang juga pernah membela klub liga Eredivisie Belanda AZ Alkmaar itu ketika diwawancarai kemarin.
Dia memaparkan kenapa dia begitu mencintai Indonesia, negeri yang membesarkan ayahnya. Gaston mengatakan, Indonesia memiliki arti penting baginya. “Ayah saya Johnny Salasiwa yang merupakan orang Indonesia. Dia berasal dari desa Waeputih di Pulau Buru. Jadi Indonesia memiliki arti penting bagi saya. Dan darah Indonesia juga mengalir di tubuh saya, jadi tidak mungkin saya bisa lupa Indonesia” terangnya lagi.
Gaston memilih cara yang sedikit unik untuk mengekspresikan rasa bangganya menjadi salah satu putra yang memiliki hubungan dekat dengan negeri ini, yakni tato bertuliskan Waeputi, desa tempat sang ayah dilahirkan di punggung bagian atas. “Kenapa saya pilih tulisan Waeputi? Itu desa tempat ayah saya dilahirkan yang juga berarti kampung halamanku,” terang saudara laki-laki perempuan bernama Jarda itu.
Tidak lengkap rasanya menurutnya, jika tidak memberikan sumbangsih kepada negeri yang bahkan lebih dicintainya dibandingkan negeri kelahirannya Belanda lewat caranya, sepakbola. Seperti Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan yang telah masuk dalam tahap seleksi timnas sepakbola Indonesia U (under) 23. dirinya berharap suatu saat bisa mewujudkan impian itu.(raf/ tribunmedan.com)
“Saya ingin bermain sepakbola untuk Indonesia, dan bila memungkinkan, saya mau punya dua kewarganegaraan Indonesia dan Belanda, karena dua negara itu sangat berarti bagi saya,” katanya.
Namun, jika tidak diperbolehkan, dia rela meninggalkan kewarganegaraan Belanda untuk resmi menjadi orang Indonesia.
Kalau memang tidak memungkinkan, saya akan pilih menjadi warganegara Indonesia,” ungkap pencetak dua gol bagi Bintang Medan di putaran pertama lalu itu.
Memang, sebagai pemain, dirinya masih hanya sebatas menunggu untuk masuk dalam skuad seleksi timnas. Tidak ada yang bisa dilakukan selain itu. Namun, dia tetap berharap, sembari berusaha agar nantinya dilirik masuk menjadi bagian dari Tim Garuda-julukan timnas Indonesia. “Saya belum ada terima undangan atau apapun dari PSSI, dadi belum ada yang bisa kulakukan selain berupaya memberikan yang terbaik bagi timku,”ujarnya.
Dua gol sudah dilesakkannya ke gawang lawan. Gol pertama terjadi pada menit ke-2, ketika Bintang Medan dijamu Bandung FC di Stadion Mashoed, Kuningan, Sabtu (9/4) lalu. Sedangkan gol kedua terjadi pada menit ke-54, ketika Bintang Medan menjamu Tangerang Wolves, Sabtu (16/4) malam, di Stadion Teladan, Medan.
Kendati belum maksimal, dia yakin seleksi pemain yang dilakukan Bintang Medan menyongsong putaran kedua ini akan menjadikan tim ini lebih kuat. “Terus terang dengan keluarnya Ahn (Ahn Hyo Yeon) dan Gutti (Gutti Ribeiro), kekuatan Bintang Medan menurun, tapi dengan penambahan pemain di jeda putaran pertama ini, saya yakin tim ini akan lebih baik,” tandas Gaston.
BIOFILE
Nama: Gaston Salasiwa
TTL: Zaandam, Belanda (17/8/1988)
Tinggi/ Berat: 173cm, 64 kg
Karir Klub:
AZ Alkmaar (Eredivisie) 2008-2009
Telstaar (Eerste Divisie) 2009-2010
Bintang Medan 2010-2011